Ketika Istirahat Terasa Seperti Kegagalan
![]() |
| Ilustrasi kelelahan di tengah ritme kehidupan yang terus bergerak. Sumber: Pinterest |
Ada satu kegelisahan yang diam-diam akrab bagi mahasiswa hari ini, yaitu rasa bersalah ketika berhenti. Di tengah tuntutan untuk selalu siap, istirahat tak lagi dipahami sebagai jeda belajar, melainkan sebagai risiko tertinggal. Seolah diam sebentar saja berarti kalah dalam perlombaan yang tak pernah benar-benar kita sepakati.
Produktivitas telah menjadi bahasa utama penilaian. Mahasiswa dinilai dari seberapa panjang daftar kegiatannya, organisasi, magang, kerja sambilan, proyek personal, hingga sertifikat tambahan. Semua harus berjalan beriringan, seakan proses belajar tidak cukup sah tanpa bukti yang bisa dilampirkan di Curriculum Vitae (CV). Dalam situasi ini, kampus tak jarang ikut melanggengkan logika tersebut dengan menyebutnya sebagai kesiapan menghadapi dunia kerja.
Ketika Belajar Disamakan dengan Bertahan
Magang, misalnya, kerap dipromosikan sebagai ruang belajar. Namun dalam prakteknya, banyak mahasiswa justru belajar satu hal “bagaimana bertahan”. Jam kerja yang panjang, tugas yang menumpuk, dan ekspektasi profesional yang disematkan pada status “belajar” menciptakan kontradiksi. Mahasiswa dituntut bekerja layaknya tenaga siap pakai, tetapi tetap diminta memahami bahwa semua itu adalah bagian dari proses pembelajaran.Di titik inilah kelelahan mental sering kali tidak mendapat tempat. Lelah dianggap konsekuensi wajar dari ambisi, bukan sinyal adanya masalah struktural. Ketika mahasiswa mengeluh, respons yang muncul kerap normatif, kurang kuat, kurang siap, atau belum terbiasa. Padahal, kelelahan tersebut lahir dari sistem yang terus menuntut kesiapan tanpa menyediakan ruang refleksi dan pemulihan.
Budaya ini menanamkan keyakinan bahwa nilai diri harus terus dibuktikan melalui kesibukan. Berhenti menjadi hal yang mencurigakan. Istirahat terasa seperti kemunduran, bahkan kegagalan personal. Mahasiswa pun belajar menekan rasa lelah, menyembunyikan kebingungan, dan melanjutkan langkah tanpa sempat bertanya “apakah semua ini benar-benar sedang membentuk diri, atau sekadar memenuhi ekspektasi?”.
Belajar Tanpa Hak Berhenti
Ironisnya, dunia pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman untuk belajar justru berpotensi melanggengkan tekanan dunia kerja sejak dini. Mahasiswa dipacu untuk cepat, adaptif, dan produktif, tetapi jarang diajak mendiskusikan batas, keberlanjutan, dan kesehatan mental sebagai bagian dari proses akademik.Ketika istirahat terasa seperti kegagalan, yang sesungguhnya sedang bermasalah bukan etos kerja mahasiswa, melainkan cara sistem memaknai belajar. Sebab belajar tidak selalu berarti bergerak maju tanpa henti. Ia juga membutuhkan jeda ruang untuk mengendapkan pengalaman, memahami kegagalan, dan merumuskan ulang arah.
Jika dunia pendidikan terus mendorong mahasiswa untuk berlari tanpa memberi hak berhenti, maka yang sedang kita hasilkan bukanlah generasi pembelajar, melainkan generasi yang pandai bertahan di tengah kelelahan. Dan di titik itu, produktivitas tak lagi menjadi alat pembebasan, melainkan beban yang diam-diam menggerus makna belajar itu sendiri.
.jpg)
