Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

  • Rubrik
  • _Lini Masa
  • _Dua Sisi
  • _Dialektika
  • _90s
  • Jurnalisme Bertutur
  • Tajuk Rencana
  • Liputan
  • _Wawancara
  • _Liputan Mendalam
  • _Sosial dan Politik
  • _Isu Kontemporer
  • _Cerita Perjalanan
  • _Dibalik Peristiwa
  • _Jurnalisme Infografik
  • _Audio-visual
  • _Rilis Kegiatan
  • Suara Mahasiswa
  • Majalah Kanal Perspektif
  • Lensa Peristiwa
  • Donasi
  • Beranda
  • Lini Masa

Melawan Kekerasan Seksual di Pesantren dengan Melawan Kultus Personal

Oleh Redaksi Kanal Perspektif
Oktober 28, 2026

Dokumentasi demonstrasi sejumlah perempuan aktivis menyerukan stop kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan. ANTARA FOTO/Rahmad
  

            

Kalau dicermati kasus kekerasan seksual di lingkungan pondok pesantren bukan sekadar persoalan hukum, melainkan cermin dari krisis yang lebih dalam apalagi jika menelaah laporan dari Komnas Perempuan berjudul “Santri Perempuan Datang untuk Belajar, Bukan untuk Menjadi Korban”, yang dirilis pada 9 mei 2026 yang menegaskan adanya penyalahgunaan relasi kuasa yang dibalut oleh otoritas keagamaan dan lemahnya mekanisme perlindungan terhadap korban sebagai akibat berulangnya kasus kekerasan seksual dilingkungan pondok pesantren. 


Terkait dengan penyalahgunaan relasi kuasa yang dibalut oleh otoritas keagamaan, menarik kiranya jika kita mencoba menelaah dan melawannya lewat tiga film karya sineas Asia Tenggara yang mengisahkan tentang agamawan cabul. Yang pertama, film berjudul Tuhan, Izinkan Aku Berdosa dari Indonesia yang dirilis pada tahun 2023. Film ini berkisah tentang seorang mahasiswa bernama Kiran yang hidupnya berubah drastis saat ia bergabung dengan sebuah kelompok keagamaan garis keras yang dipimpin oleh Abu Darda (Ridwan Raoull). Alih-alih mendapatkan ketenangan batin atau hidayah, Kiran justru menjadi korban pelecehan seksual sang guru. Kemudian, upayanya untuk mengungkap aib sang guru bersama sahabat laki-lakinya, berstatus Ustad dari satu pengajian justru berakhir dengan kekecewaan karena sahabatnya tersebut merenggut harga dirinya dan tidak mau mengakui perbuatannya. 


Yang kedua, serial film Serial drama Malaysia berjudul Bidaah (2025), yang lebih dikenal sebagai "film Walid",  yang mengisahkan tentang Baiduri, seorang gadis muda dari keluarga religius yang dipaksa oleh ibunya, Kalsum, untuk bergabung dengan sebuah kelompok keagamaan bernama Jihad Ummah. Kelompok ini dipimpin oleh Walid Muhammad, seorang pria karismatik yang mengklaim dirinya sebagai Imam Mahdi, juru selamat akhir zaman. 


Awalnya, Baiduri melihat Jihad Ummah sebagai komunitas pengajian biasa yang mengajarkan kebaikan, namun ia segera menyadari bahwa di balik ajaran tersebut tersimpan rahasia kelam, termasuk praktik pernikahan paksa, ketaatan buta, dan ritual aneh seperti meminum air rendaman kaki Walid. Bersama Hambali, putra Walid yang menentang ayahnya, Baiduri berusaha mengungkap kebusukan kelompok tersebut dan membebaskan diri dari cengkeraman sekte sesat itu.


Yang ketiga, Film Purificacion (2022) dari Filipina yang mengisahkan tentang Inspektur Polisi Gabriela Isidro yang menyelidiki serangkaian pembunuhan mengerikan terhadap perempuan-perempuan di kota Santa Monica. Para korban ditemukan tewas tergantung di pohon dengan luka mirip stigmata di tangan dan kaki, dan semuanya dikaitkan dengan perbuatan dosa seperti perzinahan, prostitusi, perampasan tanah, dan kecanduan narkoba. Dalam penyelidikannya, Gabriela yang juga seorang istri yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, justru mulai terpesona pada Pastor Ricardo Purificacion, seorang imam muda yang dicintai warga setempat. 


Namun di balik pesona dan reputasinya yang baik, Pastor Ricardo menyimpan rahasia kelam. yang dengan sengaja menyesatkan Gabriela dan memanfaatkan kedekatan mereka, sementara Gabriela perlahan terjebak dalam daya tarik berbahaya sang imam, tanpa menyadari bahwa pria yang ia percayai mungkin adalah pelaku di balik semua pembunuhan tersebut


Ketiga film tersebut sama-sama berkisah tentang penyalahgunaan otoritas “agamawan” yang menjurus kepada kesesatan dan kriminalitas dengan cara  memanipulasi ajaran suci, membangun relasi kuasa yang timpang, dan menciptakan budaya diam di lingkungan yang mereka Kelola. Yang berbahaya, persoalan kekerasan yang dihasilkan oleh penyalahgunaan otoritas “keagamaan” itu bersifat fisik, simbolik, dan psikologis yang membuat  korban pada akhirnya kehilangan kemampuan untuk mengenali pengalaman mereka sebagai bentuk kekerasan seksual. 


Untuk melawan penyalahgunaan otoritas keagamaan yang menyimpang , kita perlu memahami seputar “cult of personality “ atau “kepribadian kultus”. Saya mengenal istilah ini ketika mengkaji seputar gereja Scientology yang didirikan oleh Lafyette Ron Hubbard pada tahun 2018,  yang merupakan gerakan new religious movement atau NRM yaitu  kelompok keagamaan atau spiritual yang  berada di luar arus utama dari kebudayaan maupun agama dominan di masyarakatnya.


Cult of personality adalah mesin psikologis yang dirancang untuk memproduksi penyembahan absolut kepada seseorang. Di lingkungan pesantren, bahaya ini tidak selalu tampil sebagai pemujaan terbuka karena sering menyusup lewat bahasa penghormatan, keberkahan, dan ketaatan. 


Ketika seorang kiai atau ustadz tidak lagi dipandang sebagai guru yang dihormati, melainkan sebagai pusat kebenaran yang tak boleh dipertanyakan, maka pesantren berubah dari tempat menimba ilmu menjadi kamp konsentrasi untuk mencetak loyalitas.


Kritik dianggap dosa, sikap kritis dianggap kurang adab, dan perbedaan pendapat dianggap pengkhianatan, dan membongkar “aib” sang guru dianggap sebagai tidak beriman. Untuk melawannya, bukan berarti harus membangkang kepada guru , melainkan menolak menjadikannya  sebagai Tuhan kecil yang menggantikan fungsi kebenaran.


Apa yang baik, menurut penilaian kita maka patut kita ikuti namun sebaliknya jika tidak “baik” tidak perlu di ikuti.  Harus membedakan dan mengambil sikap tegas  mana yang termasuk  ta’dzim yaitu penghormatan kepada guru dengan yang termasuk taqdis yaitu pengudusan yang membuat seseorang tak bisa salah.


Idealnya , Otoritas kiai atau ustadz semestinya bersifat keilmuan, bukan magis-absolut. Mereka bisa benar, bisa salah, bisa terjerumus dalam kejahatan, dan tetap terikat pada teks, konteks, serta tanggung jawab moral. Dan yang tak kalah penting, melawan cult of personality juga membutuhkan budaya kolektif, bukan hanya keberanian individu yang mendorong agar Pesantren dapat membuka ruang dialog, melindungi hak bertanya, menyediakan mekanisme pengaduan, mengevaluasi pengajar secara fair, dan menjaga transparansi. Karena sejatinya,  Loyalitas tertinggi seorang santri adalah kepada Allah dan kebenaran, bukan kepada persona manusia. 

 

 

 

Oleh: Mansurni Abadi - Aktivis dan mantan pengurus divisi riset Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah cabang Malaysia yang sempat menjadi tahanan politik aksi demonstrasi Agustus 2025 di Rutan Salemba, Jakarta Pusat. 

 

 

Tags:
  • Lini Masa
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tulisan terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tulisan terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan
Posting Komentar
Batal
Banyak Dibaca
  • Mengapa Tren Stop The Wedding Jadi Suara Luka Kolektif Anak Muda

    Oktober 16, 2026
    Mengapa Tren Stop The Wedding Jadi Suara Luka Kolektif Anak Muda
  • Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo

    Juni 24, 2023
    Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo
  • Tren Budaya Kaum Muda di Bandung

    Februari 28, 2026
     Tren Budaya Kaum Muda di Bandung
  • Budaya Lokal Menjadi Konten: Dilestarikan atau Sekadar Viral?

    Oktober 13, 2026
    Budaya Lokal Menjadi Konten: Dilestarikan atau Sekadar Viral?
  • Gertakan Hukum Negara Tetangga Tak Cukup Hentikan Asap Karhutla

    Oktober 20, 2026
    Gertakan Hukum Negara Tetangga Tak Cukup Hentikan Asap Karhutla
Gila Temax
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Kerja Sama
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Hak Jawab
  • Disclaimer
  • Pojok Literasi
  • Liputan Mendalam
2026 © Kanal Perspektif - All rights reserved.