Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

  • Rubrik
  • _Lini Masa
  • _Dua Sisi
  • _Dialektika
  • _90s
  • Jurnalisme Bertutur
  • Tajuk Rencana
  • Liputan
  • _Wawancara
  • _Liputan Mendalam
  • _Sosial dan Politik
  • _Isu Kontemporer
  • _Cerita Perjalanan
  • _Dibalik Peristiwa
  • _Jurnalisme Infografik
  • _Audio-visual
  • _Rilis Kegiatan
  • Suara Mahasiswa
  • Majalah Kanal Perspektif
  • Lensa Peristiwa
  • Donasi
  • Beranda
  • Tajuk Rencana

Sebuah Kebijakan Konyol Bahlil yang Memakan Nyawa

Oleh Muhammad Abyan Dafi
Februari 06, 2025

 

Kebijakan Bahlil Soal Gas Melon. Foto : Suara.com

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia kembali menunjukkan betapa fatalnya jika seorang pemimpin tanpa visi besar diberi wewenang besar. Keputusannya yang sembrono melarang pengecer menjual gas elpiji 3 kg telah menciptakan malapetaka yang seharusnya bisa dihindari. Seorang ibu rumah tangga kehilangan nyawa setelah berjam-jam mengantre hanya demi mendapatkan sebotol gas melon. Apa arti pembangunan dan pertumbuhan ekonomi jika rakyat kecil terus menjadi korban kebijakan yang cacat sejak lahir?

Bayangkan seorang ibu yang berkeliling dari pagi, mencari gas untuk menanak nasi bagi keluarganya. Tenaganya terkuras, harapannya pupus, dan tubuhnya menyerah pada kebijakan dungu yang seharusnya tak pernah ada. Ini bukan sekadar kegagalan administratif, ini adalah pembunuhan struktural yang dilakukan oleh pemimpin yang buta terhadap penderitaan rakyatnya sendiri.

Panggung Politik, Rakyat Dijadikan Tumbal

Lebih menyedihkan lagi, kebijakan ini bahkan tak sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang mengusung kepentingan rakyat kecil. Bahlil seolah bergerak dengan irama politiknya sendiri, seperti seorang dalang yang mempermainkan wayang tanpa memahami alur cerita. Ia lupa bahwa dirinya hanyalah seorang pelaksana, bukan penguasa. Jika sudah tidak mampu menerjemahkan visi besar pemimpinnya, sebaiknya ia tahu diri dan mundur sebelum lebih banyak korban berjatuhan.

Kita bukan bangsa yang buta, kita bukan rakyat yang tuli. Kita melihat, kita mendengar, dan kita merasakan penderitaan yang lahir dari kebijakan tanpa hati ini. Di negeri yang kaya raya ini, mengapa rakyat harus bersusah payah hanya untuk mendapatkan sebotol gas bersubsidi? Apa gunanya kabinet jika isinya hanya kumpulan menteri yang lebih sibuk membangun citra dibandingkan bekerja untuk rakyat?

Menjaring Angin, Rakyat Tetap Kehilangan Harapan

Kekacauan ini juga menjadi cermin betapa terbelakangnya sistem distribusi energi di Indonesia. Sementara negara lain sudah beralih ke jaringan gas kota dan energi listrik yang lebih bersih, Indonesia masih berkutat dengan distribusi manual yang rawan korupsi dan permainan harga. Pemerintah justru lebih gencar mendorong mobil listrik dibandingkan transisi ke kompor listrik yang lebih masuk akal bagi rakyat kecil. Apakah ada kepentingan terselubung? Apakah para pejabat lebih menikmati keuntungan dari impor elpiji dibanding mencari solusi yang lebih cerdas?

Seharusnya, pemerintah belajar dari sektor-sektor lain. Subsidi pupuk yang dulu amburadul kini lebih tertib dengan sistem kartu. Bensin subsidi pun kini lebih terarah. Lantas, mengapa kebijakan elpiji dipegang dengan tangan yang gemetar? Sungguh aneh jika kompor listrik dianggap lebih sulit diterapkan dibandingkan mobil listrik. Tak masuk akal, dan menimbulkan tanya: siapa sebenarnya yang diuntungkan dari semua ini?

Sudah terlalu banyak kesalahan yang tak bisa dimaafkan. Kebijakan ini telah memakan korban, dan seorang pemimpin sejati akan bertanggung jawab dengan mundur, bukan dengan dalih-dalih politis yang hanya memperpanjang penderitaan rakyat.

Jika nyawa rakyat kecil masih kalah penting dibandingkan ego seorang pejabat, maka ini bukan hanya soal kebijakan yang buruk, tetapi juga bukti bahwa kemanusiaan di kursi kekuasaan telah mati. Bahlil seharusnya tahu, rakyat bukanlah pion dalam permainan politiknya. Jika ia masih punya sedikit kehormatan, langkah terbaik yang bisa ia lakukan adalah pergi sebelum sejarah mencatat namanya sebagai menteri yang lebih banyak membawa duka daripada manfaat.


Muhammad Abyan Dafi - Kepala Departemen Redaksi
Tags:
  • Tajuk Rencana
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Muhammad Abyan Dafi
Muhammad Abyan Dafi
Muhammad Abyan Dafi, 21 tahun. Menurutku, the best road to progress is a freedom road
Tulisan terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tulisan terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan
Posting Komentar
Batal
Banyak Dibaca
  • Akal Busuk Pemerintah Mengembalikan Pilkada ke DPRD

    Januari 21, 2026
    Akal Busuk Pemerintah Mengembalikan Pilkada ke DPRD
  • Can This Love Be Translated? Seni Menerjemahkan Luka dan Mengenali Diri

    Januari 22, 2026
    Can This Love Be Translated? Seni Menerjemahkan Luka dan Mengenali Diri
  • Ketika Ilmu, Politik, dan Kepercayaan Bertemu

    Januari 22, 2026
    Ketika Ilmu, Politik, dan Kepercayaan Bertemu
  • Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo

    Juni 24, 2023
    Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo
  • Ketika Komedi Diseret ke Kantor Polisi

    Januari 09, 2026
    Ketika Komedi Diseret ke Kantor Polisi
Gila Temax
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Kerja Sama
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Hak Jawab
  • Disclaimer
  • Pojok Literasi
  • Liputan Mendalam
2026 © Kanal Perspektif - All rights reserved.