Can This Love Be Translated? Seni Menerjemahkan Luka dan Mengenali Diri
![]() |
| Drama Can This Love Be Translated. Foto: Netflix |
Tahukah anda bahwa saat ini ada lebih dari 7.100 bahasa yang digunakan di berbagai belahan dunia? Namun, di antara jutaan kosakata yang tercipta, setiap manusia ternyata menyimpan satu bahasa yang paling sulit dikuasai yakni bahasa batinnya sendiri. Meski dunia memiliki ribuan lidah, pada hakikatnya setiap individu mempunyai frekuensi komunikasinya masing-masing. Mereka selalu menemukan cara yang unik, namun terkadang menyakitkan, untuk menyampaikan emosi yang terpendam.
Inilah inti dari premis drama Korea terbaru, Can This Love Be Translated?. Dikemas apik oleh sutradara Yoo Young-eun (Bloody Heart) dan skenario dari duo Hong Sisters yang legendaris, serial ini melintasi batas geografis sekaligus emosional. Ia menegaskan bahwa sejatinya komunikasi bukanlah sekadar kefasihan verbal, melainkan keberanian untuk menjadi benar-benar rentan dalam sebuah relasi.
Bahasa sebagai tabir dan jembatan
Ketajaman cerita ini bermula dari pertemuan dua kutub yang berbeda. Ju Ho-jin (Kim Seon-ho) adalah seorang poliglot handal yang fasih menerjemahkan kata demi kata secara logis. Namun, hidupnya jungkir balik saat ia harus menjadi "bayang-bayang" bagi Cha Mu-hee (Go Youn-jung), aktris papan atas yang hidup dalam kemewahan namun terperangkap dalam bahasa traumanya sendiri. Kim Seon-ho memberikan performa yang stabil sebagai "penerjemah", sementara Go Youn-jung tampil memukau saat mengeksplorasi kerapuhan mental di balik topeng popularitasnya.
Ketertarikan penonton bukan hanya pada bagaimana Ho-jin menerjemahkan dialog film untuk Mu-hee, melainkan bagaimana ia perlahan menjadi penerjemah bagi perilaku-perilaku aneh Mu-hee yang dipicu oleh trauma masa lalu. Di sinilah letak kekuatan akting keduanya; mereka tidak hanya bertukar dialog, tetapi juga saling bertukar pemahaman tentang luka yang tak terucap.
Melampaui batas komedi romantis klasik
Cerita dimulai dengan pertemuan mereka di luar negeri yang berujung pada posisi Ho-jin sebagai penerjemah pribadi Mu-hee. Namun, alur cerita mengambil belokan tajam saat kita menyadari bahwa Mu-hee bukan sekadar selebritas yang sulit. Ia pernah mengalami kecelakaan yang membuatnya koma selama enam bulan, dan saat terbangun, ia meraih popularitas lewat karakter zombie bernama Do Ra-mi.
Menariknya, Do Ra-mi bukan sekadar peran film. Ia muncul sebagai representasi psikologis dari pergulatan batin Mu-hee. Plot ini bergeser dari romansa ringan di awal menjadi sebuah drama psikologis yang menelisik bagaimana seseorang bersembunyi di balik topeng popularitas untuk menutupi trauma masa lalu.
Sinematografi: warna-warni emosi
Visual dalam drama ini patut diacungi jempol. Kita dibawa berkeliling dunia, mulai dari arsitektur klasik yang romantis di Italia, ketenangan pedesaan Jepang yang bergaya Zen, hingga kemegahan lanskap pegunungan serta keindahan Aurora Borealis di Kanada.
Penggunaan latar internasional tidak hanya berfungsi sebagai pemanis mata. Sinematografinya menggunakan palet warna yang kontras sebagai simbol perjalanan emosional: warna-warna hangat seperti oranye dan kuning muncul di momen kedekatan, sementara warna biru dingin dan abu-abu menonjol saat karakter merasa terisolasi secara mental.
![]() |
| Drama Can This Love Be Translated. Foto: Netflix |
Cinta sebagai media penyembuhan
K-drama Can This Love Be Translated? melampaui batas sekadar romansa lintas bahasa; ia adalah sebuah studi mendalam tentang kesehatan mental. Cha Mu-hee didiagnosis mengalami Dissociative Identity Disorder (DID), gangguan identitas disosiatif akibat trauma masa lalu. Karakter "Do Ra-mi" muncul sebagai mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) saat realita terasa terlalu menyakitkan untuk dihadapi.
Ju Ho-jin mengambil peran yang jauh lebih krusial daripada sekadar ahli bahasa; ia menjadi fasilitator komunikasi antara Mu-hee dengan dirinya yang terluka. Pada awalnya, Ho-jin mencoba membedah tindakan Mu-hee melalui logika yang kaku. Namun, ia menyadari bahwa untuk memahami Mu-hee, ia harus berhenti mencari padanan kata dalam kamus dan mulai merasakan resonansi emosional. Kelebihan drama ini terletak pada keberaniannya menyentuh isu kesehatan mental dengan jemari yang lembut, meski di beberapa sisi, transisi dramatis antar-kepribadiannya terkadang terasa sedikit membebani alur demi mempertahankan estetika visual.
Kita mungkin sering mendengar kalimat klise, "Love yourself first before loving others." Namun, kalimat sederhana ini nyatanya menjadi beban berat bagi mereka yang memiliki luka masa lalu. Bagi individu seperti Cha Mu-hee, luka pengabaian (abandonment wound) menciptakan delusi sebagai ruang aman—sebuah ilusi di mana ia harus menjadi "orang lain" agar tetap merasa layak dicintai.
Maka dari itu, kita dapat belajar melalui kisah Ju Ho-jin dan Cha Mu-hee. kita diajak memahami bahwa sejatinya mencintai bukan hanya tentang memvalidasi kelebihan, melainkan kesediaan untuk tetap tinggal di tengah kerumitan identitas seseorang. Proses mencintai diri sendiri ini seringkali membutuhkan cermin berupa kasih sayang orang lain yang tulus untuk membantu menyatukan kembali kepingan yang pecah. Pada akhirnya, cinta sejati merupakan proses penerjemahan yang paling sabar; ia tidak menuntut kesempurnaan, sebab kesempurnaan adalah ilusi yang lahir dari ketakutan akan rapuh. Cinta justru berdiam di wilayah yang retak— ia hadir untuk mendengarkan bahasa-bahasa diam yang tak pernah diajarkan, yang tumbuh dari luka, ingatan, dan ketakutan yang sekian lama enggan ditampilkan.


