Memperingati Luka, Mengeja Dosa: Catatan dari Hari Perempuan Internasional di Bandung
Tidaklah sekadar seremoni kalender, peringatan ini menjadi ruang temu bagi simpul-simpul perlawanan yang dihadiri komunitas terdampak dan gerakan akar rumput seperti Dago Elos, Sukahaji, Serikat Pekerja Kampus, serta berbagai aliansi lintas gender yang melebur dalam barisan yang sama.
Tahun ini, napas perjuangan para puan terasa lebih berat sehingga mendorong keberanian yang lebih besar. Seruan mereka menyoroti lanskap sosial-politik yang kian sesak oleh ketimpangan. Narasi yang dibawa mencerminkan keresahan atas realitas pasca-protes Agustus 2025; sebuah periode yang menyisakan memori tentang represivitas dan upaya membawa suara-suara vokal ke meja hijau.
Diksi "Jeruji Fasisme" yang digaungkan menjadi metafora bagi tatanan yang dianggap mengekang kebebasan bersuara. Di tengah kepungan patriarki dan kapitalisme, perempuan masih menempati posisi rentan, dimarjinalkan secara ekonomi, minim perlindungan sosial, hingga terbatasnya jaminan hukum yang inklusif.
Dalam aksi tahun ini, aliansi Women’s March Bandung 2026 menyuarakan 112 tuntutan, dari level dapur hingga nasional, sebagai manifesto keberpihakan. Beberapa poin krusial yang ditegaskan antara lain:
Hancurkan fasisme, imperialisme, dan kolonialisme negara! Lawan kriminalisasi dan rebut kembali kedaulatan rakyat
Hentikan kekerasan berbasis gender, dan lawan diskriminasi identitas
Cabut Undang-undang Cipta Kerja dan hentikan eksploitasi buruh, guru, dosen, dan pekerja kampus
Kesehatan adalah hak konstitusional, penuhi hak atas layanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau dan berbasis ilmu pengetahuan
Wujudkan pendidikan ilmiah, demokratis, dan kerakyatan
Tegakkan keadilan dan akses setara bagi penyandang disabilitas
Wujudkan kebebasan berekspresi dan jamin keamanan jurnalis
Hentikan politisasi agama dan pengawasan moral
Hentikan ekosida, jamin hak masyarakat adat, dan wujudkan Green Justice!
Batalkan program Makan Bergizi Gratis uang memperparah ketimpangan
Arahkan Penggunaan AI untuk kemaslahatan rakyat, bukan keuntungan korporasi
Menengok ke belakang, Hari Perempuan Internasional memang lahir dari rahim perlawanan kelas pekerja di awal abad ke-20. Dari konferensi di Kopenhagen tahun 1910 hingga hari ini, tanggal 8 Maret adalah simbol bagi perempuan yang menolak tunduk pada jam kerja yang tidak manusiawi dan upah yang rendah.
Semangat itu kini beresonansi di sepanjang jalanan Bandung. Melalui aksi ini, Simpulpuan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menyadari bahwa perjuangan perempuan bukanlah perjuangan satu kelompok saja. Sebagaimana pesan yang mereka bawa: di hari ini, dan seterusnya, isu perempuan adalah isu kemanusiaan secara menyeluruh.



