Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

  • Rubrik
  • _Lini Masa
  • _Dua Sisi
  • _Dialektika
  • _90s
  • Jurnalisme Bertutur
  • Tajuk Rencana
  • Liputan
  • _Wawancara
  • _Liputan Mendalam
  • _Sosial dan Politik
  • _Isu Kontemporer
  • _Cerita Perjalanan
  • _Dibalik Peristiwa
  • _Jurnalisme Infografik
  • _Audio-visual
  • _Rilis Kegiatan
  • Suara Mahasiswa
  • Majalah Kanal Perspektif
  • Lensa Peristiwa
  • Donasi
  • Beranda
  • Lini Masa

Di Balik Angka Karhutla di Media, Ada Jeritan Masyarakat Kalimantan

Oleh Redaksi Kanal Perspektif
Oktober 07, 2026

 

Kebulan asap di Kalimantan. Foto: Yuyun Maulidah


Udara yang bersih adalah hak semua warga negara. Tak peduli si miskin ataupun si kaya, semua layak dan berhak mendapatkan udara bersih. Namun, udara bersih tampak menjadi kemewahan yang sulit didapatkan sebulan belakangan di Kalimantan. Pekatnya polusi asap akibat pembakaran hutan dan lahan telah merenggut hak paling mendasar sebagai makhluk hidup.


Tak tanggung-tanggung, sepanjang tahun 2026 ini, Manggala Agni Kementerian Kehutanan mencatat telah melakukan 4.682 kali operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dengan luas area yang ditangani mencapai 38.277,43 hektare. Situation Report Kementerian Kesehatan juga mencatat jumlah penduduk yang terdampak mencapai 10.674.201 orang hingga Agustus 2026. Salah satu dampak kesehatan yang tercatat adalah gangguan pernapasan, dengan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara kumulatif mencapai 13.449 kasus.


Salah satu provinsi yang mengalami dampak serius adalah Kalimantan Tengah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Tengah mencatat ada 49.551 titik panas (hotspot) dan 2.222 kejadian karhutla, dengan luas area terbakar mencapai 6.358,71 hektare. Di tengah situasi genting ini, dua orang relawan kemanusiaan telah gugur saat berusaha memadamkan si jago merah.


Apresiasi yang sangat luar biasa untuk para pahlawan yang luar biasa. Bukan sang pemimpin negara, bukan pula penguasa bergelimang harta, atau politisi yang hanya pandai bicara, melainkan mereka yang berada di garda terdepan. Pemadam kebakaran dan relawan yang jauh dari sorot kamera. Menembus panasnya si jago merah tanpa rasa takut. Berjuang di tengah asap yang kian mencekik. Bertahan dengan alat yang sederhana. Tak banyak apresiasi yang bisa engkau dapatkan, namun jasamu tak pernah terlupakan.


Para pegiat lingkungan mencurigai bahwa kebakaran ini bukanlah peristiwa yang terjadi begitu saja, lantaran kebakaran terus terjadi berulang kali sejak awal Juli lalu. Direktur Eksekutif Daerah Walhi Kalimantan Tengah, Janang Firman Palanungkai, menyebutkan bahwa mayoritas lahan yang terbakar berada di area konsesi perkebunan sawit. Sejauh ini, polisi baru menetapkan delapan tersangka yang diklaim sebagai pemilik lahan. Sementara itu, Kementerian Kehutanan menyasar enam perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH). Itu pun, sanksi yang diberikan baru sebatas sanksi administratif berupa Paksaan Pemerintah—sebuah ketegasan di atas kertas yang tak sebanding dengan besarnya dampak yang ditimbulkan.


Data-data yang tertulis di layar kian bertambah seiring tingginya jeritan masyarakat Kalimantan. Pemerintah seakan tak berkutik, bahkan sibuk melempar narasi yang di luar nalar. Ada banyak komentar pejabat yang kian menyayat hati. Mulai dari pernyataan pejabat yang menyebut keadaan tidak semengerikan apa yang beredar di media sosial, hingga argumen bahwa sekolah harus tetap berjalan normal demi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pertanyaan yang terlintas kemudian, apakah kesehatan paru-paru ratusan ribu masyarakatnya tidak sepenting program MBG yang terus diagung-agungkan itu?


Kebakaran ini tidak hanya menyiksa manusia, tetapi juga menghabisi satwa-satwa di dalamnya. Ada induk ular yang mati terpanggang. Ada orangutan yang pingsan setelah mencoba menyelamatkan diri. Ada pula induk orangutan yang terpaksa bertahan hidup di pucuk pohon yang tersisa. 


Yang membuat kian miris adalah komentar warganet di luar sana yang justru menyalahkan masyarakat lokal. Mereka meminta masyarakat lokal untuk introspeksi diri menjaga lingkungan. Padahal, masyarakat yang menjadi korban tidak semestinya begitu saja disalahkan atas kebakaran yang terjadi. Hamparan kebun sawit yang kini mengelilingi jalanan di Kalimantan Tengah seakan mengingatkan kita pada persoalan lama tentang penguasaan lahan. Tempo, mengutip WALHI, mencatat bahwa korporasi menguasai 72,28 persen wilayah Kalimantan Tengah. Ketimpangan penguasaan ruang ini pun disebut turut menyumbang tingginya deforestasi.


Kejadian ini memang menjadi agenda rutin yang kerap membuat masyarakat putus asa. Pemerintah harus memperbaiki sistem yang keliru, mulai dari hukuman pelaku yang terlalu ringan hingga meng-upgrade alat yang digunakan. Pemerintah harus hadir secara langsung agar memahami kehidupan masyarakat di tengah asap yang pekat. Tak hanya omon-omon bahwa mayoritas masyarakat Indonesia dilanda kebahagiaan—tanpa melihat langsung sumbernya.


Tidakkah pemerintah malu, melihat rakyat bahu-membahu tanpa adanya pegangan? Bahkan beberapa tokoh, seperti Sherina dan Ferry Irwandi, tak ragu untuk menerjang kobaran api dengan peralatan seadanya. Tak tanggung-tanggung, masyarakat Indonesia pun turut serta berdonasi untuk membeli hutan dan terkumpul lebih dari Rp6,3 miliar. Angka yang sangat fantastis untuk ukuran donasi, bukan?

 

Sementara itu, pemerintah tak jua mampu membeli peralatan lebih canggih untuk memadamkan api. Mungkin bagi sebagian orang yang hidup nyaman di luar sana, jeritan Kalimantan dianggap berlebihan. Namun, tahukah mereka? Masyarakat Kalimantan sudah dipaksa bertahan hidup di dalam kepulan asap sejak Juli lalu. Sejak Indonesia mulai sibuk menyiapkan berbagai pesta perayaan kemerdekaan. Penderitaan itu kian lengkap dengan adanya pemadaman listrik bergilir—yang hampir setiap hari. Bayangkan hidup terkurung di tengah kepungan asap pekat, tanpa ada listrik sama sekali. 


Sekuat apa paru-paru mereka harus bertahan sendirian? Mereka tidak sedang meminta belas kasihan, mereka hanya meminta keresahan ini cepat usai, sebelum harapan kami benar-benar hilang dan jeritan kami dipadamkan.


Akhirnya, harapan itu tak melulu donasi miliaran demi keuntungan segelintir orang, namun sesederhana udara bersih yang menjadi hak semua orang. Hutan yang rindang dan satwa yang berteduh kala hujan menjadi memori tak terlupakan warga Kalimantan. Entah sampai kapan bumi akan bersabar, tatkala banyak manusia serakah yang sibuk mengeruk dengan sadar. Tangan Tuhan akan selalu bergerak, memegang erat masyarakat Kalimantan yang sedang menadah pasrah.


Oleh: Yuyun Maulidah

Tags:
  • Lini Masa
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tulisan terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tulisan terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan
Posting Komentar
Batal
Banyak Dibaca
  • Mengapa Pendidikan Kita Makin Tersingkir di Negeri Sendiri

    September 30, 2026
    Mengapa Pendidikan Kita Makin Tersingkir di Negeri Sendiri
  • Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo

    Juni 24, 2023
    Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo
  • Menjaga Kebersihan Lingkungan Juga Bagian dari Cinta Tanah Air

    Januari 28, 2026
    Menjaga Kebersihan Lingkungan Juga Bagian dari Cinta Tanah Air
  • Di Balik Angka Karhutla di Media, Ada Jeritan Masyarakat Kalimantan

    Oktober 07, 2026
    Di Balik Angka Karhutla di Media, Ada Jeritan Masyarakat Kalimantan
  • Dari Pengkritik Vokal Menjadi Penasihat Presiden di Lingkar Kekuasaan Prabowo

    Oktober 03, 2026
    Dari Pengkritik Vokal Menjadi Penasihat Presiden di Lingkar Kekuasaan Prabowo
Gila Temax
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Kerja Sama
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Hak Jawab
  • Disclaimer
  • Pojok Literasi
  • Liputan Mendalam
2026 © Kanal Perspektif - All rights reserved.