Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

  • Rubrik
  • _Lini Masa
  • _Dua Sisi
  • _Dialektika
  • _90s
  • Jurnalisme Bertutur
  • Tajuk Rencana
  • Liputan
  • _Wawancara
  • _Liputan Mendalam
  • _Sosial dan Politik
  • _Isu Kontemporer
  • _Cerita Perjalanan
  • _Dibalik Peristiwa
  • _Jurnalisme Infografik
  • _Audio-visual
  • _Rilis Kegiatan
  • Suara Mahasiswa
  • Majalah Kanal Perspektif
  • Lensa Peristiwa
  • Donasi
  • Beranda
  • Lini Masa

Gagal Mudik Bikin Homesick

Oleh Irkhas Febri
Maret 31, 2021
 Gagal Mudik Bikin Homesick. Ilustrasi: Fatwa Jaka S.

Sepertinya lebaran tahun ini bakal kembali sendu. Pasalnya, Pemerintah secara resmi mengumumkan peraturan larangan mudik. Dilansir dari Kompas, hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy pada Jumat (26//3/2021).

Larangan mudik ini akan berlaku pada 6-17 Mei 2021. Meskipun ada cuti bersama di hari raya Idul Fithri, namun tidak boleh ada aktivitas mudik yang dilakukan. Selain itu, sebelum dan sesudahnya, masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan kegiatan-kegiatan ke luar daerah.

Kebijakan ini tentu sangat tak ramah bagi perantau, termasuk saya. Saya yang masih dalam masa studi di salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Yogyakarta harus menerima nasip yang mengenaskan, gagal mudik.

Padahal saya sudah membayangkan bagaimana senangnya bisa mudik ke Lampung. lebaran pasti sangat menyenangkan dan emosional jika bisa di lakukan di kampung halaman.

Hal ini tentu juga berlaku bagi mereka yang mengadu nasib di tanah antah berantah nan jauh dari kampung halaman. Kini, bayangan berkumpul bersama kerabat di hari lebaran jadi buram perlahan.

Harus melewati lebaran tanpa keluarga memang tak mudah. Apalagi bagi beberapa orang yang tahun lalu juga tak dapat kesempatan mudik, pasti bikin homesick. Tahun ini adalah lebaran kedua yang harus dilalui tanpa pulang ke kampung halaman setelah tahun lalu pemerintah juga mengumumkan kebijakan larangan mudik. 

Harus mengulang kesepian yang sama, tak bisa bertemu dengan kakek, nenek, orang tua, juga saudara lainnya. Tanpa sungkem, tanpa makanan spesial khas kampung halaman, tanpa salaman amplop dan yang paling horor adalah tanpa pertanyaan basa-basi “Kapan nikah?”.

Saat ada kerabat yang bertanya demikian, saya cuma bisa tersenyum getir sambil berguam “Wong lulus aja belum!”. Saya paham betul, dari awal tujuan pertanyaan itu tak pernah serius. Pertanyaan ini digunakan hanya sebagai pembuka untuk melanjutkan percakapan-percakapan berikutnya.

Kembali ke hari ini, sepertinya saya sudah harus menyiapkan siasat untuk melewati lebaran pilu tahun ini. Jika tidak, saya akan benar-benar mati dalam kesendirian. Menangis di sudut kamar sambil menelpon orang tua di rumah. Sungguh pemandangan yang sangat memilukan.

Rencana saya, hari pertama akan diisi dengan silaturahmi online dengan orang tua, kerabat, dan juga sahabat-sahabat dekat. Selanjutnya, saya akan mengumpulkan teman-teman yang senasip tak bisa mudik. Saya akan coba untuk menawarkan rencana mengisi Idul Fithri bersama. Karena saya percaya, teman dengan nasip yang sama akan lebih mudah untuk diajak kompak.

Yah, bagaimanapun juga cara ini lebih baik dari pada meningkatkan resiko penyebaran virus di kampung halaman tercinta. Tentu kita tak mau orang-orang terdekat dan tercinta kita justru terpapar virus.

Tapi, ada ga sih alternatif yang lebih baik? wah, corona memang sangat mirip seperti mantan, bisa merusak kebahagiaan.

Tags:
  • Lini Masa
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Irkhas Febri
Irkhas Febri
Penulis muda nan langka yang memiliki antusiasme tinggi di depan lembar kerja. Saat ini aktif menulis di exploringindonesia.com
Tulisan terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tulisan terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan
Posting Komentar
Batal
Banyak Dibaca
  • Banjir Jawa Barat: Warisan Tata Ruang yang Terabaikan

    Februari 17, 2026
    Banjir Jawa Barat: Warisan Tata Ruang yang Terabaikan
  • Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo

    Juni 24, 2023
    Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo
  • Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Tapi Tak Boleh Digugat

    Februari 15, 2026
    Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Tapi Tak Boleh Digugat
  • Kontroversi Perpres Jurnalisme Berkualitas

    Agustus 18, 2023
    Kontroversi Perpres Jurnalisme Berkualitas
  • Can This Love Be Translated? Seni Menerjemahkan Luka dan Mengenali Diri

    Januari 22, 2026
    Can This Love Be Translated? Seni Menerjemahkan Luka dan Mengenali Diri
Gila Temax
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Kerja Sama
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Hak Jawab
  • Disclaimer
  • Pojok Literasi
  • Liputan Mendalam
2026 © Kanal Perspektif - All rights reserved.