Mutualisme Media dan Budaya Pop ditengah Hegemoni Komodifikasi

Mutualisme media dan budaya pop. Ilustrasi: Fatwa Jaka

Ilustrasi sederhana dari istilah komodifikasi dapat digambarkan dengan adanya suatu produk kebudayaan tertentu yang menjadi komoditas dan diperdagangkan dengan luas. Konsep ini dalam kerangka Vincent Mosco (2009) dianggap sebagai produk nyata dari kebudayaan yang kemudian gemar disebut dengan budaya pop atau produk- produk budaya yang menjadi populer di tengah masyarakat.

Budaya pop ini lahir dari industri budaya yang dikomersialisasi sehingga prosesnya cenderung bersifat kapitalistik dan pada saat yang sama dapat melunturkan ideologi yang ada. 

Dalam konteks komodifikasi, Theodor Adorno (1973) berpandangan bahwa konsep ini erat kaitannya dengan produksi nilai tukar yang menjadikan masyarakat sebagai obyek kaum kapitalis dan pemilik modal untuk mendapatkan suatu keuntungan. 


Contoh nyata misalnya, komodifikasi yang timbul dari budaya pop ini dapat digambarkan dengan realitas masyarakat yang telah menganggap produk-produk yang diciptakan industri budaya menjadi penting bagi kehidupan mereka. 


Pentingnya produk budaya itu bukan karena manfaatnya untuk kehidupan mereka tetapi justru penting karena produk tersebut telah melekat pada mereka. 


Mutualisme media yang memproduksi budaya pop yang menjadi komoditas (komodifikasi) ini pada akhirnya akan berimplikasi pada semakin langgengnya hubungan hegemoni keduanya, dalam hal ini budaya pop yang diperdagangkan. 


Memang, pada satu titik tentu dapat bersifat positif bagi kebudayaan populer tertentu, misalnya budaya pop yang menguntungkan Indonesia dalam hal ekonomi yang tentunya tidak hanya menguntungkan dari kaum kapitalis, namun juga para pekerja media dan masyarakat yang turut memproduksi budaya menjadi populer dalam kancah global. 


Tetapi pada aspek lain apabila dilihat dari kacamata cultural studies, nyatanya dapat berimplikasi negatif pada kebudayaan Indonesia misalnya, yang semakin luntur karena adanya pergeseran ideologi. Hal ini terlihat dari masifnya hegemoni komodifikasi budaya pop non-Indonesia (luar negeri) yang sarat akan kepentingan politis dan kapitalisme. 

Post a Comment

0 Comments