Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

  • Rubrik
  • _Lini Masa
  • _Dua Sisi
  • _Dialektika
  • _90s
  • Jurnalisme Bertutur
  • Tajuk Rencana
  • Liputan
  • _Wawancara
  • _Liputan Mendalam
  • _Sosial dan Politik
  • _Isu Kontemporer
  • _Cerita Perjalanan
  • _Dibalik Peristiwa
  • _Jurnalisme Infografik
  • _Audio-visual
  • _Rilis Kegiatan
  • Suara Mahasiswa
  • Majalah Kanal Perspektif
  • Lensa Peristiwa
  • Donasi
  • Beranda
  • Dialektika

Saatnya Memihak Pada Yang Lemah Bersama Jurnalisme Advokasi

Oleh Yogie Alwaton
Maret 13, 2023

Jurnalisme advokasi. Ilustrasi: Fatwa Jaka S

Dalam jurnalisme, kita mengenal bahwa sudut pandang berita harus berpihak pada publik. Namun sayangnya, persoalan sudut pandang ini seringkali diabaikan oleh jurnalis. Sebagai contoh, isu Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara yang begitu kontroversial nyatanya tidak berpihak pada masyarakat adat dan lokal setempat. 

Mayoritas pemberitaan hanya berfokus pada opini-opini elit yang pro terhadap pembangunan IKN. Sementara, bagi mereka yang merasakan secara langsung dampak pembangunan IKN tidak mendapatkan suaranya di media.

Hal ini dapat dimisalkan dengan pembangunan intake Sungai Sepaku Semoi di Penajam Paser Utara, lokasi di mana IKN akan dibangun, yang akan memasok air ke daerah IKN Nusantara. Pembangunan intake ini nyatanya membahwa dampak negatif tersendiri bagi masyarakat setempat, lantaran dengan adanya pembangunan tersebut menyebabkan keruhnya air warga, hilangnya air sungai di belakang rumah mereka hingga tanaman-tanaman juga ditebang. 

Tentu mereka tidak memiliki kuasa yang kuat akan hal ini. Relasi media dan elit pada saat yang sama juga semakin memperkeruh keadaan. 

Namun, harapan mereka sedikit tercerahkan dengan adanya jurnalisme advokasi.

Dalam pandangan Waisbord (2009), advokasi memiliki arti pembelaan. Jurnalisme advokasi berarti kegiatan jurnalistik yang berdasar pada pembelaan untuk mendukung pihak-pihak yang termarjinalkan di media. Jurnalisme advokasi ini membela mereka yang tidak memiliki suara. 

Disaat media-media berfokus meliput isu IKN dengan mendukung mega proyek ambisius Jokowi-Amin ini, jurnalis yang menganut prinsip advokasi justru menandingi wacana ini dengan membela dan mendukung perjuangan pihak-pihak yang lemah. Dengan begitu, isu-isu dan suara masyarakat yang tidak memiliki kuasa akan mendapat tempat di media.

Sehingga pada saat yang bersamaan, mereka yang lemah akan terangkat suaranya.

Meskipun hanya sedikit, setidaknya suara mereka didengar dan menimbulkan harapan.


Tags:
  • Dialektika
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Yogie Alwaton
Yogie Alwaton
a full-time learner who loves journalism and media studies.
Tulisan terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tulisan terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan
Posting Komentar
Batal
Banyak Dibaca
  • Tren Budaya Kaum Muda di Bandung

    Februari 28, 2026
     Tren Budaya Kaum Muda di Bandung
  • Ilusi Pembangunan dan Realitas Rente: Membaca Arah Ekonomi Prabowo–Gibran

    Februari 25, 2026
    Ilusi Pembangunan dan Realitas Rente:  Membaca Arah Ekonomi Prabowo–Gibran
  • Menjaga Kebersihan Lingkungan Juga Bagian dari Cinta Tanah Air

    Januari 28, 2026
    Menjaga Kebersihan Lingkungan Juga Bagian dari Cinta Tanah Air
  • Perang Iran dan Amerika Serikat yang Kita Baca, Dampak yang Terlupakan

    Februari 18, 2026
    Perang Iran dan Amerika Serikat yang Kita Baca, Dampak yang Terlupakan
  • Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo

    Juni 24, 2023
    Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo
Gila Temax
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Kerja Sama
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Hak Jawab
  • Disclaimer
  • Pojok Literasi
  • Liputan Mendalam
2026 © Kanal Perspektif - All rights reserved.