Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

  • Rubrik
  • _Lini Masa
  • _Dua Sisi
  • _Dialektika
  • _90s
  • Jurnalisme Bertutur
  • Tajuk Rencana
  • Liputan
  • _Wawancara
  • _Liputan Mendalam
  • _Sosial dan Politik
  • _Isu Kontemporer
  • _Cerita Perjalanan
  • _Dibalik Peristiwa
  • _Jurnalisme Infografik
  • _Audio-visual
  • _Rilis Kegiatan
  • Suara Mahasiswa
  • Majalah Kanal Perspektif
  • Lensa Peristiwa
  • Donasi
  • Beranda
  • Dialektika

Jurnalisme Pemberi Uang, Emang Ada?

Oleh Yogie Alwaton
Juni 19, 2023
Sumber foto: Daily Sundial


Dalam jurnalisme, wartawan amplop sangat dikenal. Namun, di samping itu, ada pula istilah checkbook journalism, atau dalam arti lain wartawan pemberi uang.

Jika pada wartawan amplop, sang wartawan yang diberi uang, tapi tidak demikian dengan checkbook journalism. Ini adalah kebalikannya. Pada intinya, wartawan ini justru memberikan sejumlah uang kepada sumber berita sebagai imbalan untuk memperoleh informasi eksklusif. Biasanya ini terjadi apabila narasumber berita tidak bisa diakses. 

Di Indonesia, fenomena ini pernah terjadi. Misal saja seorang wartawan ekonomi pada masa orba yang mengaku sering memberikan uang kepada satpam yang bertugas di rumah Menteri Pertanian kala itu. Dengan memberikan uang itu, la diizinkan masuk dan bertemu menteri. Padahal, wartawan lain tidak pernah mendapatkan izin itu. 

Persoalan yang kemudian muncul, apakah ini melanggar kode etik? Jawabannya sangat dilematis. Ini karena, salah satu tugas wartawan adalah menyampaikan kebenaran atas informasi yang diperolehnya. Terlebih jika berita yang digali merupakan berita eksklusif dan investigatif. 

Pada satu sisi, ini bisa dibenarkan, selagi wartawan itu menyampaikan kebenaran yang dipertanggung jawabkan pada publik. Ini karena memang sangat sulit mendapatkan informasi yang sifatnya rahasia itu. Meskipun harus melalui jalur checkbook journalism, nampaknya ini sah-sah saja dilakukan. Tapi mesti diingat, fenomena semacam in merupakan eksklusivitas berita. Dalam arti lain, ia sangat ditentutkan oleh uang. Media- media kecil nampaknya akan kesulitan mendapatkan akses informasi itu. 

Kalau sudah begini, apa yang menjadi tawaran? Sulit menjawabnya. Namun yang pasti, seharusnya narasumber berita harus mampu menyediakan dirinya pada wartawan. Ini agar tercipta lingkungan informasi yang mudah diakses seluruh wartawan. Dan dengan demikian, publik pun mendapatkan berita yang transparan.
Tags:
  • Dialektika
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Yogie Alwaton
Yogie Alwaton
a full-time learner who loves journalism and media studies.
Tulisan terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tulisan terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan
Posting Komentar
Batal
Banyak Dibaca
  • Banjir Jawa Barat: Warisan Tata Ruang yang Terabaikan

    Februari 17, 2026
    Banjir Jawa Barat: Warisan Tata Ruang yang Terabaikan
  • Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo

    Juni 24, 2023
    Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo
  • Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Tapi Tak Boleh Digugat

    Februari 15, 2026
    Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Tapi Tak Boleh Digugat
  • Kontroversi Perpres Jurnalisme Berkualitas

    Agustus 18, 2023
    Kontroversi Perpres Jurnalisme Berkualitas
  • Can This Love Be Translated? Seni Menerjemahkan Luka dan Mengenali Diri

    Januari 22, 2026
    Can This Love Be Translated? Seni Menerjemahkan Luka dan Mengenali Diri
Gila Temax
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Kerja Sama
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Hak Jawab
  • Disclaimer
  • Pojok Literasi
  • Liputan Mendalam
2026 © Kanal Perspektif - All rights reserved.