Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

  • Rubrik
  • _Lini Masa
  • _Dua Sisi
  • _Dialektika
  • _90s
  • Jurnalisme Bertutur
  • Tajuk Rencana
  • Liputan
  • _Wawancara
  • _Liputan Mendalam
  • _Sosial dan Politik
  • _Isu Kontemporer
  • _Cerita Perjalanan
  • _Dibalik Peristiwa
  • _Jurnalisme Infografik
  • _Audio-visual
  • _Rilis Kegiatan
  • Suara Mahasiswa
  • Majalah Kanal Perspektif
  • Lensa Peristiwa
  • Donasi
  • Beranda
  • Lini Masa

Peran Intelektual Sejati

Oleh Yogie Alwaton
Mei 08, 2024

Pernyataan sikap guru besar UGM. Foto: Sindonews.com


Berulang kali saya dihadapkan dengan pertanyaan yang maknanya selalu sama.


"Sebenarnya apa peran intelektual?"

"Mengapa kita butuh kaum intelektual di negeri ini?"


Dua pertanyaan itu nampaknya selalu membekas dan seakan melekat di dalam benak. 


Sontak, saya terdiam sebentar.


Sembari memikirkan jawaban apa yang harus saya lontarkan kepada kaum-kaum 'pemikir' itu.


Beberapa waktu berpikir, saya lalu teringat pada apa yang selalu diucap oleh seorang filsuf terkemuka barat, Jean-Paul Sartre (1905-1980). 


"The true intelectual". Itulah kalimat yang ia katakan. 


Tentu banyak aspek yang bisa kita hubungkan dari pertanyaan kaum-kaum 'pemikir' itu. Namun, nampaknya pertanyaan mereka seakan tertuju pada persoalan etika presiden tercinta kita.


Jokowi dan Nir-etikanya

Kita telah menyaksikan para guru besar itu mengomentari Jokowi, sang maestro dan seorang legenda dalam penciptaan dinasti politik. Tentu saja, komentar profesor dari berbagai perguruan tinggi ini seakan menjadi angin segar dan harapan tersendiri bagi bangsa yang tengah dirundung persoalan akut. Katakan saja, soal pelemahan demokrasi; meningkatnya sikap antikonstitusionalisme oleh penguasa; hingga pelemahan etika dalam kehidupan politik. 


Sartre dalam pandangannya menyebut apa yang dilakukan para kaum intelektual saat itu sebagai 'hakikat intelektual sejati'. 


Dari masa ke masa, para intelektual sejati ini menjadi salah satu elemen yang cawe-cawe untuk turut melakukan berbagai perbaikan bangsa ini, mulai dari turut menginisiasi kemerdekaan hingga menumbangkan kezaliman sebuah rezim kekuasaan.


Artinya, para intelektual itu memang sudah seharusnya berpikir dan melakukan pernyataan sikap itu. Itulah marwah mereka. 


Tentu saja, kaum intelektual yang tak perduli dengan isu sosial politik seperti ini tidak pantas disebut intelektual sejati. Mereka adalah false intellectual. 


Mereka hanya menikmati remah-remah pemikiran pragmatis dari para penguasa dan rezim negeri ini.


Mereka, diam dalam kekuasaan. 


Demikianlah, sebagai suatu negara yang dikatakan demokratis ini, pemikiran oposisi harus tetap ada. Oposisi inilah yang kemudian disebut sebagai noise. Sedang mereka yang berkuasa disebut voice. Noise adalah nafas demokrasi. Mereka sebagai penyeimbang dari pemikiran-pemikiran kritis. Diantaranya termaktub dengan adanya aksi-aksi massa, termasuk di dalamnya juga berkaitan dengan peran intelektual sejati yang mengomentari rezim Jokowi.


Respons penguasa

Sayangnya, respons penguasa dari kegelisahan itu biasa saja. Alih-alih memperhatikan pandangan kritis itu secara sungguh-sungguh dan substansial, respons kekuasaan tampak sambil lalu. Presiden sebagai obyek kritik secara singkat meresponsnya sebagai "bagian dari demokrasi". Itu saja.


Harian Kompas pun dalam terbitannya menyebutkan bahwa mereka yang dibiarkan kritis ini pada akhirnya hanya merupakan aksesori politik tanpa makna besar. Kalangan itu dibiarkan hidup dan terus menyuarakan rasionalitas, tetapi seperti berteriak di padang pasir. Sebab, kenyataannya, kebijakan penguasa tetap terlaksana, termasuk yang paling menabrak hakikat demokrasi secara substansial ataupun proseduran sekalipun.


Akhirnya, dalam pandangan saya, intelektual memang harus sejati. Ia tidak boleh berperan sebagai boneka penguasa. Ia harus kritis dalam pemikirannya. Dalam isu apapun.


Teruslah tumbuh pemikiran besar kaum intelektual.

Teruslah mengakar kuat idealisme kaum 'pemikir' itu. 

Dengan begitu, nafas demokrasi kita menjadi nyata. 

Tags:
  • Lini Masa
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Yogie Alwaton
Yogie Alwaton
a full-time learner who loves journalism and media studies.
Tulisan terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tulisan terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan
1 komentar
Batal
Comment Author Avatar
Muhammad Rafid Wafi
8 Mei 2024 pukul 16.44
mantapp mass
Balas
Banyak Dibaca
  • Banjir Jawa Barat: Warisan Tata Ruang yang Terabaikan

    Februari 17, 2026
    Banjir Jawa Barat: Warisan Tata Ruang yang Terabaikan
  • Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo

    Juni 24, 2023
    Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo
  • Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Tapi Tak Boleh Digugat

    Februari 15, 2026
    Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Tapi Tak Boleh Digugat
  • Kontroversi Perpres Jurnalisme Berkualitas

    Agustus 18, 2023
    Kontroversi Perpres Jurnalisme Berkualitas
  • Can This Love Be Translated? Seni Menerjemahkan Luka dan Mengenali Diri

    Januari 22, 2026
    Can This Love Be Translated? Seni Menerjemahkan Luka dan Mengenali Diri
Gila Temax
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Kerja Sama
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Hak Jawab
  • Disclaimer
  • Pojok Literasi
  • Liputan Mendalam
2026 © Kanal Perspektif - All rights reserved.