Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

  • Rubrik
  • _Lini Masa
  • _Dua Sisi
  • _Dialektika
  • _90s
  • Jurnalisme Bertutur
  • Tajuk Rencana
  • Liputan
  • _Wawancara
  • _Liputan Mendalam
  • _Sosial dan Politik
  • _Isu Kontemporer
  • _Cerita Perjalanan
  • _Dibalik Peristiwa
  • _Jurnalisme Infografik
  • _Audio-visual
  • _Rilis Kegiatan
  • Suara Mahasiswa
  • Majalah Kanal Perspektif
  • Lensa Peristiwa
  • Donasi
  • Beranda
  • Foto Feature

Harapan di Tengah Kegelapan

Oleh Muhammad Abyan Dafi
Maret 05, 2025

Foto : Aksi Massa di Kota Ibukota. [Kanal Perspektif/Irvine Althaf Fulca]

"Di bawah langit yang muram, suara rakyat berpendar,
teredam aturan yang membungkam, tapi tak pernah benar-benar padam.
Keadilan bukan bayang semu di sudut senja,
ia seharusnya nyata, tumbuh di setiap jiwa."

Pada Jumat (21/02/2025) ribuan orang turun ke jalan. Dari Bandung hingga Jakarta, mereka membawa satu pesan: keadilan harus ditegakkan.

Mereka bukan siapa-siapa, hanya rakyat biasa yang tak ingin negerinya tenggelam dalam kegelapan. Tapi justru dari kesederhanaan itu, lahir keberanian untuk menuntut perubahan.

Riuh Perlawanan di Kota Kembang

Foto : Mahasiswa Universitas Telkom melakukan unjuk rasa  [Kanal Perspektif/Muhammad Abyan Dafi]
  

Di depan Gedung DPRD Jawa Barat, ratusan massa berkumpul dengan satu suara. Mahasiswa, buruh, aktivis, dan berbagai elemen masyarakat turun ke jalan menentang kebijakan yang dinilai mengancam kesejahteraan rakyat.

Mereka meneriakkan penolakan terhadap efisiensi anggaran, yang menimbulkan kerugian pada beberapa sektor, seperti naiknya biaya pendidikan, hingga phk massal. Tak hanya itu, masyarakat menekankan bahwa tindakan pembungkaman terhadap karya seni kritis, seperti yang dialami Sukatani, merupakan ancaman serius bagi demokrasi dan kebebasan berekspresi di Indonesia. Salah satu orator menyatakan, "Jika hari ini Sukatani dibungkam, boleh jadi besok kita yang akan mengalami hal serupa."

Massa di Bandung meneriakkan protes atas ketidakadilan ini. Mereka menuntut transparansi, keadilan, dan perlindungan bagi seniman yang selama ini dipaksa diam. Sebagian demonstran membawa poster-poster sebagai simbol perlawanan, sementara lainnya berorasi, menegaskan bahwa Bandung tidak akan tunduk pada kepolisian dan juga ketidakadilan.

Foto : Coretan di tembok gedung DPRD Jawa Barat [Kanal Perspektif/Muhammad Abyan Dafi]

Foto : Salah satu demonstran sedang mengangkat poster [Kanal Perspektif/Muhammad Abyan Dafi]

Foto : Spanduk yang terpajang di Gedung DPRD Jawa Barat [Kanal Perspektif/Muhammad Abyan Dafi]

Foto : Aksi Massa membakar spanduk dan benda lain di depan Gedung DPRD Jabar [Kanal Perspektif/Muhammad Abyan Dafi] 



Patung Kuda Jadi Saksi Ketidakpuasan

Foto : Aksi massa di Kota Jakarta [Kanal Perspektif/Irvine Althaf Fulca]


Di ibu kota, ribuan massa berkumpul di kawasan Patung Kuda. Mereka datang membawa satu pesan: kebenaran tidak boleh mati!

Kawasan Patung Kuda, yang selalu menjadi titik kumpul demonstrasi besar, kembali dipenuhi massa berpakaian hitam. Ribuan mahasiswa, aktivis, dan kelompok masyarakat sipil datang membawa tuntutan yang sama: menolak aturan yang dianggap mengekang kebebasan dan mempersempit ruang demokrasi.

Tuntutan mereka tidak main-main. Seperti halnya di Kota Bandung, mereka menuntut hal yang sama, mereka menolak adanya efisiensi anggaran yang dapat memangkas anggaran masyarakat untuk hidup layak. Massa juga dengan kompak menyanyikan lagu “Bayar, Bayar, Bayar” karya Sukatani yang beberapa hari lalu baru saja dibungkam oleh kepolisian.

Aksi di Jakarta berlangsung damai, dengan orasi yang bergantian menggema dari berbagai tokoh. Mereka menyampaikan harapan agar pemerintah mendengar suara rakyat, bukan hanya kepentingan segelintir elite.



Foto : Coretan di trotoar Kota Jakarta [Kanal Perspektif/Irvine Althaf Fulca]

Foto : Poster "Art is not a crime" di Kota Jakarta [Kanal Perspektif/Irvine Althaf Fulca]

Foto : Dua demonstran sedang unjuk rasa di depan aparat. [Kanal Perspektif/Irvine Althaf Fulca]


Kelamnya hari ini bukan akhir segalanya. Mereka percaya, setiap kegelapan pasti akan menemukan cahayanya.

Indonesia, dengarkan suara anak-anakmu.

Jangan biarkan mereka berjuang sendirian.

"Karena negeri ini tak boleh terus menerus ditelan gulita.

Harus ada cahaya yang menyala,

dan cahaya itu adalah kita."





Tags:
  • Foto Feature
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Muhammad Abyan Dafi
Muhammad Abyan Dafi
Muhammad Abyan Dafi, 21 tahun. Menurutku, the best road to progress is a freedom road
Tulisan terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tulisan terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan
Posting Komentar
Batal
Banyak Dibaca
  • Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo

    Juni 24, 2023
    Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo
  • Pilkada Jakarta 2024: Saatnya Berhenti dari Retorika Kosong.

    November 27, 2024
    Pilkada Jakarta 2024: Saatnya Berhenti dari Retorika Kosong.
  • Thrifting: Alternatif Fast Fashion atau Aktivitas Konsumtif Semata?

    Maret 23, 2021
     Thrifting: Alternatif Fast Fashion atau Aktivitas Konsumtif Semata?
  • Dedi Mulyadi: Menjual Narasi Populis Demi Tabungan Elektoral

    Juli 03, 2025
    Dedi Mulyadi: Menjual Narasi Populis Demi Tabungan Elektoral
  • Ketika Ilmu, Politik, dan Kepercayaan Bertemu

    Januari 22, 2026
    Ketika Ilmu, Politik, dan Kepercayaan Bertemu
Gila Temax
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Kerja Sama
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Hak Jawab
  • Disclaimer
  • Pojok Literasi
  • Liputan Mendalam
2026 © Kanal Perspektif - All rights reserved.