Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

  • Rubrik
  • _Lini Masa
  • _Dua Sisi
  • _Dialektika
  • _90s
  • Jurnalisme Bertutur
  • Tajuk Rencana
  • Liputan
  • _Wawancara
  • _Liputan Mendalam
  • _Sosial dan Politik
  • _Isu Kontemporer
  • _Cerita Perjalanan
  • _Dibalik Peristiwa
  • _Jurnalisme Infografik
  • _Audio-visual
  • _Rilis Kegiatan
  • Suara Mahasiswa
  • Majalah Kanal Perspektif
  • Lensa Peristiwa
  • Donasi
  • Beranda
  • Dua Sisi

Oscar 2025 dan No Other Land: Bukti Bahwa Cerita Kemanusiaan Tak Bisa Dihapus

Oleh Alden Abdurrasyid
Maret 09, 2025

No Other Land, sang pemenang film dokumenter panjang Oscar 2025. Foto: apnews.com

Piala Oscar 2025 mencatat sejarah baru. Di tengah sorotan gemerlap industri film, sebuah dokumenter yang lahir dari luka dan ketidakadilan justru mencuri perhatian dunia. No Other Land, karya jurnalis Israel, Yuval Abraham dan sineas Palestina, Basel Adra, dinobatkan sebagai Film Dokumenter Terbaik, membawa kisah pahit dari sudut Tepi Barat yang sering kali hanya menjadi catatan kecil dalam berita internasional. Namun, film ini membuktikan bahwa tidak ada kisah yang bisa benar-benar dihapus, terlebih jika itu adalah cerita tentang kemanusiaan.

Masafer Yatta: Sebuah Tanah yang Terancam Dihapus

Basel Adra tidak hanya menjadi sutradara dalam film ini, tetapi juga saksi sekaligus korban dari narasi yang ia rekam. Masafer Yatta, tempat kelahirannya di Tepi Barat, telah lama menjadi titik panas dalam konflik Palestina-Israel. Pemukiman yang dihancurkan, warga yang terusir, dan ketakutan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya menjadi latar belakang kehidupan Adra. Lewat kamera, ia mendokumentasikan kehancuran yang tidak hanya merobohkan rumah-rumah, tetapi juga merenggut hak paling mendasar: rasa aman.

Dalam pidato kemenangannya, Adra mengungkap harapan sederhana—sesuatu yang seharusnya menjadi hak universal, tapi justru menjadi kemewahan di tanah kelahirannya. "Sekitar dua bulan lalu, saya menjadi seorang ayah, dan harapan saya adalah putri saya tidak perlu mengalami kehidupan yang penuh ketakutan akan kekerasan para pemukim, pembongkaran rumah, dan pengusiran paksa seperti yang dihadapi masyarakat kami di Masafer Yatta setiap hari, di bawah penjajahan Israel," katanya di atas panggung Oscar.

Adra tahu, kemenangan ini bukan akhir dari perjuangan. Oscar mungkin memberi pengakuan, tetapi penghancuran di Masafer Yatta masih berlanjut. Namun, lewat film ini, dunia dipaksa untuk melihat—bukan sekadar mendengar, bukan sekadar membaca, tetapi benar-benar melihat apa yang terjadi.

Dua Sisi dalam Satu Film

Di dunia yang terpolarisasi oleh konflik, No Other Land hadir sebagai bukti bahwa dua sisi yang berbeda masih bisa bertemu dalam kebenaran yang sama. Yuval Abraham, jurnalis asal Be’er Sheva, Israel, yang tumbuh tanpa berinteraksi dengan rakyat Palestina, menemukan realitas yang mengejutkan ketika ia mulai menyelami kisah Basel Adra.

Pertemuan mereka bukan sekadar persahabatan, tetapi juga perlawanan bersama terhadap ketidakadilan. "Kami membuat film ini, Palestina dan Israel, karena dengan bersama-sama suara kita lebih kuat," ujar Abraham dalam pidatonya di Oscar. Ia juga menegaskan sikapnya terhadap konflik yang masih berlangsung, dengan menyerukan diakhirinya perang di Gaza serta pembebasan sandera yang masih tertahan.

Keberanian Abraham dan Adra dalam menyuarakan kebenaran, meskipun berasal dari dua sisi sejarah yang berbeda, menunjukkan bahwa ada titik temu dalam setiap kisah kemanusiaan. Bahwa sebelum politik dan ideologi memisahkan manusia, ada rasa peduli yang tetap bisa menyatukan mereka.

Ketika Kemanusiaan Mengalahkan Sensasi

Di tengah dominasi film-film blockbuster dan kampanye Oscar yang penuh strategi, kemenangan No Other Land terasa seperti perlawanan tersendiri. Dokumenter ini tidak datang dengan kemewahan, tidak dibangun atas dasar hiburan semata, tetapi lahir dari realitas yang pahit dan tidak nyaman.

Sebelumnya, film ini telah mendapatkan pengakuan di Festival Film Internasional Berlin 2024 dan meraih predikat Film Non-Fiksi Terbaik dari New York Film Critics Circle. Namun, kemenangan di Oscar adalah puncak dari perjalanan panjangnya—sebuah bukti bahwa dunia belum sepenuhnya menutup mata terhadap penderitaan yang terus terjadi di Palestina.

Ketika industri film sering kali lebih tertarik pada sensasi dan visual yang mencolok, No Other Land hadir sebagai film yang mengajak kita untuk merenung. Bahwa di luar layar bioskop, ada realitas yang tak bisa dihapus begitu saja. Dan bahwa kemanusiaan, meskipun sering kali dikalahkan oleh politik dan kekuasaan, masih memiliki tempat untuk bersuara.

Lebih dari Sekadar Film, Ini Adalah Kesaksian

Apa yang dilakukan Adra, Abraham, dan timnya bukan hanya sekadar membuat film, tetapi meninggalkan kesaksian. No Other Land bukan dokumenter biasa, melainkan rekaman sejarah yang akan terus berbicara bahkan setelah layar bioskop gelap. Ini adalah pengingat bahwa di balik angka-angka statistik korban konflik, ada manusia yang kehilangan rumahnya, keluarganya, dan hak-haknya.

Piala Oscar tidak bisa mengembalikan rumah yang telah dihancurkan atau menghapus trauma yang telah tertanam. Tetapi kemenangan ini adalah bukti bahwa ada cerita yang tidak bisa dihapus, ada suara yang tidak bisa dibungkam. Dan selagi masih ada yang berani merekam dan menceritakan, kemanusiaan akan selalu menemukan jalannya untuk didengar.


Dukung tulisan ini agar terus hadir dengan berdonasi disini:

https://www.kanalperspektif.com/p/donasi.html?m=1

Atau disini

https://saweria.co/aldenrsyd


Tags:
  • Dua Sisi
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Alden Abdurrasyid
Alden Abdurrasyid
Sebuah aksara hasil guratan Franz Kafka
Tulisan terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tulisan terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan
Posting Komentar
Batal
Banyak Dibaca
  • Akal Busuk Pemerintah Mengembalikan Pilkada ke DPRD

    Januari 21, 2026
    Akal Busuk Pemerintah Mengembalikan Pilkada ke DPRD
  • Can This Love Be Translated? Seni Menerjemahkan Luka dan Mengenali Diri

    Januari 22, 2026
    Can This Love Be Translated? Seni Menerjemahkan Luka dan Mengenali Diri
  • Ketika Ilmu, Politik, dan Kepercayaan Bertemu

    Januari 22, 2026
    Ketika Ilmu, Politik, dan Kepercayaan Bertemu
  • Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo

    Juni 24, 2023
    Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo
  • Ketika Komedi Diseret ke Kantor Polisi

    Januari 09, 2026
    Ketika Komedi Diseret ke Kantor Polisi
Gila Temax
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Kerja Sama
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Hak Jawab
  • Disclaimer
  • Pojok Literasi
  • Liputan Mendalam
2026 © Kanal Perspektif - All rights reserved.