Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

  • Rubrik
  • _Lini Masa
  • _Dua Sisi
  • _Dialektika
  • _90s
  • Jurnalisme Bertutur
  • Tajuk Rencana
  • Liputan
  • _Wawancara
  • _Liputan Mendalam
  • _Sosial dan Politik
  • _Isu Kontemporer
  • _Cerita Perjalanan
  • _Dibalik Peristiwa
  • _Jurnalisme Infografik
  • _Audio-visual
  • _Rilis Kegiatan
  • Suara Mahasiswa
  • Majalah Kanal Perspektif
  • Lensa Peristiwa
  • Donasi
  • Beranda
  • Lini Masa

Damai Yang Diperagakan

Oleh Aryasatya
Januari 31, 2026

Indonesia Bergabung dengan Dewan Perdamaian. Foto: Thejakartapost.com



Di tengah konflik global yang kian brutal dan tak kunjung usai, pernyataan sejumlah menteri untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian terdengar seperti kabar baik. Namun, kabar baik itu cepat kehilangan daya getarnya ketika publik menyadari bahwa perdamaian hari ini lebih sering diperagakan ketimbang diperjuangkan.

Dewan Perdamaian kerap dipromosikan sebagai simbol moral internasional. Bergabung di dalamnya seolah menjadi penanda bahwa suatu negara berdiri di pihak dialog dan kemanusiaan. Sayangnya, simbol ini terlalu sering dipakai sebagai kosmetik politik. Perdamaian direduksi menjadi pernyataan resmi, sementara praktik kebijakan di lapangan justru berjalan ke arah sebaliknya.

Tidak sedikit negara anggota dewan serupa yang di satu sisi menggaungkan resolusi damai, namun di sisi lain tetap memasok senjata, melindungi agresor melalui veto politik, atau mengambil keuntungan ekonomi dari konflik yang berlangsung. Dalam konteks ini, keanggotaan Dewan Perdamaian tidak lebih dari alat legitimasi tameng moral untuk menutupi ketidakberanian mengambil sikap tegas.

Keputusan para menteri tersebut juga mengandung persoalan serius: absennya kejelasan posisi. Perdamaian tidak pernah netral. Ia selalu menuntut keberpihakan pada korban, pada keadilan, dan pada kebenaran. Ketika sebuah negara memilih bersembunyi di balik bahasa diplomasi yang aman, sesungguhnya ia sedang memilih untuk tidak memilih.

Lebih berbahaya lagi, praktik semacam ini menormalisasi standar ganda dalam politik global. Pelanggaran kemanusiaan dikutuk selektif, penderitaan korban dinilai berdasarkan aliansi, dan perdamaian diperlakukan sebagai alat tawar-menawar. Dewan Perdamaian pun berisiko berubah menjadi panggung elite yang sibuk berbicara damai, tetapi enggan menanggung konsekuensinya.

Jika perdamaian hanya berhenti pada pengumuman dan keanggotaan, maka ia tak lebih dari pertunjukan politik yang sunyi dari empati. Dunia tidak kekurangan dewan, resolusi, atau pernyataan bersama. Yang langka justru keberanian untuk konsisten dan berpihak. Tanpa itu, Dewan Perdamaian hanya akan mencatat kehadiran para menteri, bukan jejak keberpihakan mereka pada kemanusiaan.

 

Tags:
  • Lini Masa
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tulisan terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tulisan terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan
Posting Komentar
Batal
Banyak Dibaca
  • Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo

    Juni 24, 2023
    Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo
  • Keintiman Tanpa Risiko di Era Kecerdasan Buatan

    Februari 02, 2026
    Keintiman Tanpa Risiko di Era Kecerdasan Buatan
  • Can This Love Be Translated? Seni Menerjemahkan Luka dan Mengenali Diri

    Januari 22, 2026
    Can This Love Be Translated? Seni Menerjemahkan Luka dan Mengenali Diri
  • Menjaga Kebersihan Lingkungan Juga Bagian dari Cinta Tanah Air

    Januari 28, 2026
    Menjaga Kebersihan Lingkungan Juga Bagian dari Cinta Tanah Air
  • Damai Yang Diperagakan

    Januari 31, 2026
    Damai Yang Diperagakan
Gila Temax
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Kerja Sama
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Hak Jawab
  • Disclaimer
  • Pojok Literasi
  • Liputan Mendalam
2026 © Kanal Perspektif - All rights reserved.