Belajar atau Bertahan? Membaca Ulang Makna Magang
![]() |
| Ilustrasi proses kreatif. Sumber: Pinterest |
Di banyak ruang diskusi mahasiswa, magang kerap dibicarakan sebagai fase penting yang harus dilalui. Sebuah pengalaman yang konon akan “mengeraskan mental” dan mendekatkan pada dunia kerja sesungguhnya. Dalam industri film, narasi ini terasa semakin kuat. Magang dipahami sebagai pintu masuk menuju profesionalisme, tempat belajar yang menuntut ketahanan, sekaligus pembuktian awal sebelum seseorang benar-benar dianggap siap. Namun, dibalik narasi tersebut, muncul satu pertanyaan yang jarang diajukan secara terbuka “apakah semua yang dilewati dalam magang benar-benar bagian dari belajar?”.
Di tengah dunia pendidikan yang semakin menekankan kesiapan kerja, magang sering diposisikan sebagai jembatan yang menjanjikan. Ia hadir sebagai ruang transisi antara bangku kuliah dan dunia profesional yang dipercaya mampu mendekatkan mahasiswa pada realitas industri. Dalam konteks industri film, magang bahkan kerap dipandang sebagai gerbang awal sebagai tempat belajar yang sesungguhnya, tempat idealisme diuji, dan ketahanan mental mulai dibentuk.
Tidak dapat disangkal, magang menawarkan pengalaman yang bernilai. Mahasiswa tidak lagi berhadapan dengan simulasi, melainkan dengan proses produksi nyata yang menuntut kecepatan, ketepatan, dan kerja kolektif. Di balik layar, mereka belajar membaca ritme kerja, memahami hierarki, serta menyadari bahwa film bukan hanya soal gagasan kreatif, tetapi juga soal kompromi dan disiplin. Dalam batas tertentu, magang memang menjadi ruang belajar yang efektif. Ia mengajarkan hal-hal yang tak selalu bisa dirangkum dalam modul akademik.
Namun, persoalan muncul ketika kata “belajar” digunakan terlalu longgar. Dalam praktiknya, status magang kerap menjadi penanda yang ambigu. Jam kerja tidak selalu terdefinisi, tugas berkembang tanpa kejelasan peran, dan ekspektasi meningkat seiring kebutuhan produksi. Semua itu sering dibingkai sebagai bagian dari proses pembelajaran, seakan belajar identik dengan menyesuaikan diri tanpa banyak bertanya.
Relasi Kuasa dan Normalisasi Kelelahan dalam Magang
Di titik ini, relasi kuasa bekerja secara halus. Mahasiswa magang berada pada posisi yang rawan. Mereka datang dengan niat belajar, tetapi juga dengan harapan untuk diakui. Penolakan terhadap beban kerja berlebih kerap dibaca sebagai kurangnya komitmen, sementara kelelahan dinormalisasi sebagai tahap yang harus dilalui. Dalam situasi seperti ini, batas antara belajar dan bekerja perlahan mengabur.
Yang jarang disadari, pengalaman tersebut tidak berhenti pada masa magang. Ia membentuk cara pandang tentang kerja sejak dini bahwa lelah adalah ukuran dedikasi, bahwa waktu personal selalu bisa dikompromikan, dan bahwa bertahan lebih penting daripada memahami. Pola ini kemudian berpotensi direproduksi ketika mahasiswa memasuki industri sebagai pekerja penuh, melanggengkan budaya kerja yang tidak pernah benar-benar dipertanyakan.
Membaca Ulang Makna Belajar dalam Program Magang
Tulisan ini tidak bermaksud menafikan peran magang sebagai bagian penting dari proses pendidikan. Sebaliknya, justru karena magang memiliki posisi strategis, ia perlu dipahami secara lebih kritis. Belajar yang bermakna memerlukan batas yang jelas, pendampingan yang manusiawi, kejelasan peran, serta ruang untuk bertanya tanpa rasa takut. Tanpa itu, proses belajar berisiko kehilangan substansinya.
Ketika magang tak lagi sekadar belajar, refleksi menjadi kebutuhan bersama. Bukan untuk menyalahkan individu atau institusi tertentu, melainkan untuk meninjau ulang bagaimana relasi antara pendidikan dan industri dibangun. Sebab, industri yang berkelanjutan tidak hanya ditopang oleh karya yang dihasilkan, tetapi juga oleh cara ia memperlakukan mereka yang sedang belajar di dalamnya. Pada akhirnya, pembelajaran yang sehat tidak menuntut penghapusan diri, ia justru memungkinkan manusia tumbuh tanpa kehilangan batasnya.

