IPK Tinggi, CV Rapi, Tapi Mahasiswa Tetap Cemas
![]() |
Ilustrasi individu di tengah ritme aktivitas yang cepat. Sumber: Pinterest
Ada ketenangan tertentu dalam angka dan dokumen. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang stabil, Curriculum Vitae (CV) yang tersusun rapi, serta portofolio yang terus diperbarui memberi ilusi kendali atas masa depan yang serba tak pasti. Di tengah kecemasan pasca-kampus, kerapian administratif menjadi pegangan yang paling mudah diakses. Setidaknya, ada sesuatu yang bisa ditunjukkan bahwa kita sedang bergerak.
Namun, kerapian itu sering kali menyembunyikan kegelisahan yang lebih dalam. Kecemasan mahasiswa tidak hilang, ia hanya dipoles agar tampak profesional. Pertanyaan tentang arah hidup, makna belajar, dan kecocokan pilihan jarang mendapat ruang, karena tidak memiliki format yang bisa dilampirkan atau dinilai.
Ketika Nilai Diri Diterjemahkan Menjadi Angka
Dalam lanskap pendidikan hari ini, IPK dan CV telah menjelma bahasa utama penilaian diri. Mahasiswa diposisikan sebagai kumpulan capaian, angka, pengalaman, dan sertifikat. Proses berpikir yang lambat, keraguan, atau kegagalan kerap dianggap sebagai gangguan alih-alih bagian sah dari pembelajaran. Akibatnya, belajar tidak lagi dimaknai sebagai proses memahami, melainkan sebagai upaya menjaga performa.Kampus, secara struktural, turut mengafirmasi budaya tersebut. Narasi “persiapan dunia kerja” diterjemahkan ke dalam tuntutan produktivitas yang berlapis. Mahasiswa didorong untuk terus menambah pengalaman, sering kali tanpa jeda refleksi. Yang jarang dibicarakan adalah ruang aman untuk tidak tahu, salah arah, atau berhenti sejenak tanpa rasa bersalah.
Kecemasan yang Dirapikan, Bukan Diselesaikan
Di titik ini, kecemasan tidak diselesaikan, melainkan dirapikan. Ia dikelola melalui aktivitas tambahan, pencapaian baru, dan pembuktian berulang. Setiap capaian memang memberi rasa aman sementara, tetapi sekaligus menaikkan standar yang harus dipenuhi berikutnya. Semakin rapi dokumen yang dimiliki, semakin besar ketakutan untuk gagal mempertahankannya.Masalahnya bukan pada IPK atau CV sebagai alat. Keduanya memiliki fungsi yang sah. Persoalan muncul ketika alat-alat tersebut dijadikan satu-satunya ukuran nilai manusia. Ketika kecemasan diperlakukan sebagai kelemahan personal, bukan sebagai gejala dari sistem pendidikan yang menekankan hasil dibanding proses.
Pendidikan seharusnya menyediakan ruang untuk ketidakteraturan untuk mencoba, keliru, dan mempertanyakan ulang pilihan. Namun ketika kampus lebih sibuk memastikan mahasiswa tampak siap, ia berisiko mengabaikan fungsi dasarnya sebagai ruang berpikir. Mahasiswa pun belajar satu keterampilan utama “bagaimana terlihat meyakinkan, meski belum sepenuhnya memahami dirinya sendiri”.
Pada akhirnya, hidup tidak pernah sepenuhnya rapi. Tidak semua kegelisahan bisa disusun ulang seperti CV. Pertanyaannya bukan lagi bagaimana membuat dokumen yang lebih meyakinkan, melainkan apakah pendidikan masih memberi ruang untuk mengakui kecemasan sebagai bagian dari proses belajar, bukan sesuatu yang harus terus disembunyikan.

