Di Aceh Tamiang, Tiga Bulan Terasa Baru Seminggu, Sebuah Catatan dari Balik Lumpur
![]() |
| Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Aceh Tamiang. Foto: Kanal Pespektif |
Aceh Tamiang, Maret 2026. Tiga bulan telah berlalu sejak langit seolah tumpah dan bumi bergeser pada 26 November 2025. Namun, bagi Faisal Yusril, salah satu relawan di Aceh mengatakan waktu seakan membeku di sana. Saat ia menginjakkan kaki di pedalaman Tamiang, aroma tanah basah dan pemandangan puing-puing membuatnya tertegun.
"Bayangkan, kejadian sudah berjalan tiga bulan setelah banjir bandang dan tanah longsor, tapi rasanya baru satu minggu kejadian pada saat kami datang ke sana. Sebegitu parahnya," kenang Faisal kepada Kanal Perspektif, Sabtu, 28 Februari 2026.
Di pusat kota hingga pelosok desa, wajah Aceh Tamiang masih rupa-rupa debu. Sampah dan batangan kayu sisa amukan arus sungai berserakan layaknya tulang-belulang raksasa yang tak sempat dikuburkan. Rumah-rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, kini hanyalah gundukan kayu dan beton yang remuk.
Hidup dalam kepungan lumpur
Bagi masyarakat Aceh, Musibah ini bukan hanya sekedar air yang mampir, tapi tanah yang menelan harapan-harapan masyarakat di sana. Faisal menceritakan bagaimana rumah-rumah yang dulu dihuni warga kini terisi oleh lumpur yang pekat.
"Ketebalan tanah atau lumpur dalam rumah ada yang setengah pintu, ada yang sampai satu pintu. Ada yang benar-benar hilang rumahnya, seakan dilahap oleh dahsyatnya banjir dan tanah longsor di sana," tutur Faisal salah satu relawan yang terjun ke pusat luka Aceh Tamiang.
Bagi mereka yang masih memiliki tapak rumah, tantangan lainnya adalah biaya. Membersihkan lumpur yang membatu bukan perkara cangkul atau tenaga manusia biasa. Faisal mengungkapkan bahwasanya untuk membersihkan satu rumah, bisa mematok harga 3 hingga 5 juta rupiah yang mana mustahil bagi mereka yang sawah dan kebunnya kini juga terkubur lumpur.
"Masyarakat sana tidak bisa melakukan aktivitas apapun. Kalau ada sawah, sawahnya berlumpur. Ada kebun, kebun juga berlumpur. Mereka hanya dapat mengandalkan dukungan dari relawan dan pemerintah," tambahnya.
Fase transisi yang sunyi
Ironisnya, saat masyarakat Aceh paling membutuhkan tangan untuk bangkit, suara bising sirine bantuan justru mulai memudar. Faisal menyebut saat ini sebagai "masa transisi yang sulit". Sebuah periode abu-abu antara tanggap darurat yang heroik dan masa rekonstruksi yang sering kali birokratis.
"Masa ini merupakan masa transisi dari tanggap darurat ke masa rehab rekonstruksi. Di masa ini, relawan sudah 'balik kanan', mengemas perlengkapannya. Jadi sudah tidak ada lagi relawan yang memberikan bantuan pokok," jelas Faisal.
Ketika sepatu bot para relawan mulai meninggalkan daerah bencana, masyarakat aceh harus tertatih dan menanggung semuanya sendirian. Dukungan pemerintah yang seharusnya menjadi garda terdepan dan menjadi tulang punggung bagi masyarakat Aceh, Justru dirasakan minim oleh aktivis di lapangan.
Menggugat di balik puing
Kondisi Aceh Tamiang yang seolah jalan di tempat selama tiga bulan ini memicu pertanyaan besar bagi Faisal dan para kemanusiaan lainnya. Jika setelah 90 hari kondisi di lapangan masih tampak seperti baru seminggu bencana, kemana sebenarnya para pemangku kebijakan yang seharusnya menjadi ujung tombak dan simbol harapan bagi masyarakatnya?
"Ujung-ujungnya seperti apa adanya. Makanya di Aceh Tamiang itu di sana sampai sekarang masih sangat parah," ujar Faisal menutup ceritanya.
Kini, di sela-sela reruntuhan pedalaman Aceh Tamiang, suara bising bantuan mulai senyap. Yang tersisa hanyalah langkah kaki warga yang mencoba mencari tapak rumah mereka yang hilang ditelan sungai. Mencari keluarga dan sanak saudara yang hilang ditelan dahsyatnya arus sungai. Seperti kata Faisal, bantuan memang menipis, tapi beban di pundak warga justru kian menebal. Di Aceh Tamiang, bencana belum benar-benar usai; ia hanya sedang berganti rupa menjadi perjuangan panjang yang sunyi.

