Partai Politik di Indonesia adalah Omon-omon Belaka
![]() |
| Surya Paloh melakukan pertemuan di Nasdem Tower dengan Prabowo Subianto setelah Prabowo terpilih menjadi Presiden. Foto: Tempo.co |
Muncul gagasan yang menguat untuk menggabungkan Partai Nasional Demokrat (Nasdem) yang dipimpin oleh Surya Paloh dengan Partai Gerindra, partai kunci sang Presiden Indonesia, Prabowo Subianto. Ide itu muncul setelah Prabowo Subianto menerima kunjungan Surya Paloh pada pekan kedua Februari 2026 di kediamannya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat.
Setelah gagal memenangkan Anies Baswedan pada pemilihan Presiden 2024 silam, Nasdem kian mandek. Padahal, Partai Nasdem dikenal selalu dekat dengan kursi kekuasaan. Namun Nasdem tak lagi punya akses dan jaringan ke kursi kekuasaan. Partai dengan ideologi demokratis ini bahkan tak mendapatkan kursi menteri di kabinet Prabowo. Sudah-lah jatuh tertimpa tangga, anggota Partai Nasdem pun berduyun-duyung hengkang ke partai lain. Hal ini kian diperparah dengan bisnis politik dan media Surya Paloh yang kembang kempis, Nasdem kian kehilangan pamornya.
Nasdem adalah partai politik omon-omon. Kepentingannya dengan demikian begitu politis. Seharusnya partai politik bisa memihak kepada publik. Ketika partai politik dikembangkan hanya dengan alasan kepentingan politis semata, ia akan menjauh dari cita-citanya untuk membantu menyejahterakan publik. Apa yang dilakukan oleh Surya Paloh untuk meleburkan partainya seakan menunjukkan pasrahnya partai politik ketika ia jauh dari pusat kekuasaan. Seharusnya, Partai Nasdem tidak mengekor kepada sosok sehingga ideologi partainya tidak bergantung pada kepentingan tertentu.


