Menggugat dari Bandung: Mengapa Mahasiswa Kembali Pekikkan "Indonesia Darurat"?
"Tidak boleh ada lagi polarisasi atau klasifikasi strata terhadap suara masyarakat; suara seorang warga biasa harus memiliki bobot dan esensi yang sama kuatnya dengan suara kelompok lainnya." ujar Izza salah seorang demonstran pada aksi Massa di Gedung DPRD Jawa Barat.
| Barisan Spanduk Tuntutan Massa Aksi di Gedung DPRD Jawa Barat, Rabu, 17 Juni 2026. Foto: Kanal Perspektif |
BANDUNG — Di bawah sengatan matahari Rabu siang (17/6/2026), jalanan di depan Gedung DPRD Jawa Barat kembali menjadi altar perlawanan. Ratusan mahasiswa dari berbagai konfederasi universitas di Bandung merapatkan barisan, memadati ruang publik guna mengamplifikasi satu narasi kolektif yang kini mengguncang jagat digital: #IndonesiaDarurat.
Aksi massa ini bukanlah sekedar ritual musiman atau romantisme jalanan. Ini adalah kulminasi dari kejenuhan publik terhadap rentetan kebijakan sekuler yang dinilai ugal-ugalan. Di balik pagar besi parlemen daerah yang angkuh, bait-bait orasi membakar udara, membedah anatomi kemunduran bangsa melalui 7 maklumat krusial.
Membedah 7 Gugatan: Dari Isi Dompet hingga Reformasi Hukum
Jika dibedah, ketujuh tuntutan yang dibawa oleh aliansi mahasiswa kali ini bukanlah isu tunggal, melainkan akumulasi masalah dari hulu ke hilir yang mencakup ekonomi makro, tata kelola pemerintahan, hingga masa depan demokrasi.
1. Desentralisasi Kesejahteraan dan Anggaran yang Defisit Moral
Mahasiswa menaruh perhatian besar pada sektor ekonomi dengan menuntut penurunan harga BBM dan stabilisasi nilai tukar Rupiah. Fluktuasi ekonomi global yang berdampak pada domestik dinilai kian mencekik daya beli masyarakat kelas bawah. Kondisi ini diperparah oleh tuntutan kedua: penyelamatan APBN. Mahasiswa mengkritik keras apa yang mereka sebut sebagai "pemborosan anggaran negara" pada proyek-proyek yang dianggap belum mendesak.
2. Disfungsi Kabinet dan Komodifikasi Program Populis
3. Menolak Kembalinya Dwifungsi dan Impunitas
![]() |
| Aksi Teatrikal Massa Aksi di Gedung DPRD Jawa Barat, Rabu, 17 Juni 2026. Foto: Kanal Perspektif |


