Mengetahui Belum Tentu Menjadi: Mengapa Kejujuran Masih Perlu Dibahas di Masa Dewasa Ini?
Sejak SD kita diajarkan untuk jujur. Kita menghafal bahwa "kejujuran adalah kunci kesuksesan", "berbohong itu dosa", dan berbagai nasihat moral lainnya. Namun, ketika dewasa, kita justru terus disuguhi berita korupsi, manipulasi data, suap, hingga penyalahgunaan jabatan. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan yang sederhana sekaligus menggelitik: jika kejujuran sudah diajarkan sejak kecil, mengapa orang dewasa masih perlu diingatkan untuk jujur?
Pertanyaan itu ternyata bukanlah pertanyaan baru. Sejak berabad-abad lalu, Socrates dan Aristoteles telah memikirkan persoalan serupa, meskipun keduanya sampai pada penjelasan yang berbeda. Menurut Socrates, tidak ada seorang pun yang dengan sengaja melakukan keburukan. Keburukan terjadi karena ketidaktahuan atau kekeliruan dalam memahami apa yang benar-benar baik. Karena itu, menurutnya, seseorang yang benar-benar mengetahui apa yang baik akan bertindak baik pula, mustahil ia melakukan hal sebaliknya.
Pandangan tersebut terasa masuk akal. Jika seseorang benar-benar memahami bahwa kejujuran adalah sebuah kebaikan, bukankah seharusnya ia akan memilih hidup jujur? Namun, semakin lama kita mengamati kehidupan, semakin tampak bahwa kenyataannya tidak sesederhana itu.
Mungkin contoh yang paling mudah kita temukan adalah korupsi. Berita tentangnya hampir tidak pernah benar-benar hilang dari ruang publik. Di hadapan kenyataan itu, muncul pertanyaan yang sulit dihindari: apakah para pelaku korupsi sesungguhnya tidak mengetahui apa itu kejujuran? Ataukah mereka justru mengetahui hal itu, bahkan mampu membicarakannya kepada anak-anak?
Sulit rasanya membayangkan apabila mereka tidak mengetahui hal itu. Mereka mungkin bahkan mampu mengajarkannya kepada anak-anak. Namun, bukankah pengalaman serupa juga pernah kita alami dalam skala yang berbeda? Tidakkah kita semua pernah mengetahui suatu tindakan itu salah, tetapi tetap melakukannya? Pengalaman inilah yang menunjukkan bahwa mengetahui apa yang benar ternyata belum selalu membuat seseorang bertindak benar.
Di sinilah Aristoteles hadir menjawab persoalan tersebut sekaligus melengkapi pandangan Socrates. Ia melihat bahwa mengetahui kebenaran dan bertindak sesuai dengan kebenaran merupakan dua hal yang berbeda. Aristoteles bukan menolak pentingnya pengetahuan yang dikemukakan Socrates. Ia sepakat bahwa manusia perlu mengetahui apa yang baik sebelum dapat hidup secara baik. Namun, agar pengetahuan itu benar-benar terwujud dalam tindakan, menurutnya terdapat tahapan yang luput dalam pandangan Socrates. Sebab, berbeda dengan Socrates, Aristoteles meyakini bahwa mengetahui tentang kebajikan saja belum cukup untuk membuat seseorang senantiasa berbuat baik.
Mungkin inilah salah satu hal yang juga patut kita renungkan dalam pendidikan. Coba ingat kembali ke masa sekolah. Berapa kali kita diminta menghafal pengertian suatu nilai moral, memahami manfaatnya, lalu menjawab soal ujian dengan benar? Kita mungkin pernah memperoleh nilai tinggi ketika ditanya, "Mengapa kita harus jujur?" Namun, apakah nilai itu benar-benar menunjukkan bahwa kita telah menjadi pribadi yang jujur? Jangan-jangan yang selama ini diukur baru sebatas apa yang kita ketahui, bukan bagaimana kita membiasakan diri hidup sesuai dengan pengetahuan tersebut.
Padahal, menurut Aristoteles, perbuatan baik haruslah dibiasakan melalui tindakan berulang hingga kebajikan itu menjadi bagian dari karakter. Namun, pembiasaan seperti apa yang dimaksud? Apakah sekadar mengulang tindakan yang sama?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana mengulang suatu tindakan. Aristoteles tidak berbicara tentang pembiasaan yang mekanis atau tanpa kesadaran, melainkan pembiasaan yang lahir dari pilihan sadar yang dipertimbangkan oleh akal budi. Melalui pilihan-pilihan itulah karakter perlahan terbentuk, baik menjadi bajik ataupun menjadi buruk, tergantung pada pilihan yang diambilnya. Artinya, perilaku buruk pun juga melalui pertimbangan akal budi. Hanya saja, penggunaannya tidak diarahkan kepada kebajikan sebagaimana mestinya.
Jika kita kembali kepada kasus korupsi, ternyata seorang koruptor pun bukanlah seseorang yang sama sekali tidak menggunakan akal budinya. Justru sebaliknya, ia mungkin menggunakan kecerdasannya untuk menyusun strategi rumit agar tindakannya tidak terdeteksi. Namun, setiap kali ia secara sadar memilih mengutamakan kepentingan pribadi daripada kejujuran, ia sedang membentuk karakter yang menjauh dari kebajikan.
Dalam hal ini, tentu saja pendidikan bukan satu-satunya faktor yang dapat menuntun seseorang untuk selalu memilih yang baik. Aristoteles sendiri mengakui bahwa pada akhirnya manusia tetap memiliki kebebasan dan tanggung jawab atas pilihan moralnya. Akan tetapi, pendidikan tetap memiliki peran yang penting. Pendidikan dapat menumbuhkan kebiasaan, melatih pertimbangan moral, dan membentuk disposisi yang membuat seseorang lebih siap memilih kebajikan ketika dihadapkan pada berbagai pilihan hidup.
Karena itu, sejatinya pelajaran tentang kejujuran tidaklah benar-benar selesai dipelajari di bangku SD. Ia merupakan nilai yang terus diuji sepanjang hidup.
Jika demikian, krisis kejujuran yang kita temui saat ini rasanya bukanlah karena seseorang tidak mengetahui mana yang benar. Persoalannya adalah kita terlalu sering berhenti pada tahap “mengetahui”, tanpa ingat melatih diri untuk “menjadi”.
Maka, sesungguhnya pertanyaan ini tidak hanya layak ditujukan kepada para pelanggar kebajikan, tetapi juga kepada diri sendiri: berapa banyak nilai yang selama ini kita yakini benar, tetapi belum sungguh-sungguh kita hidupi dalam keseharian?
Oleh: Edgina Aisha Fawnia - Mahasiswi Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia
.png)
