Yang Saya Bela Bukan Ronaldo
Saya pernah berharap Argentina kalah. Bukan karena saya punya dendam kepada Lionel Messi, apalagi kepada warga Argentina. Alasannya jauh lebih sederhana sekaligus agak memalukan: saya sudah telanjur menjadi penggemar Cristiano Ronaldo. Kalau dipikir-pikir sekarang, lucu juga bagaimana pertandingan yang berlangsung ribuan kilometer dari tempat saya tinggal bisa menentukan suasana hati saya. Ronaldo mencetak gol, saya ikut senang; Portugal kalah, saya ikut murung.
Padahal, saya tidak ikut latihan, tidak ikut menyusun strategi, bahkan mungkin Ronaldo sendiri tidak tahu kalau saya ada. Saya hanya duduk di depan layar, menonton sebelas orang berlari mengejar bola, tetapi emosi saya bisa ikut naik turun bersama hasil pertandingan. Seolah-olah kemenangan mereka adalah kemenangan saya dan kekalahan mereka adalah sesuatu yang juga harus saya tanggung. Di titik tertentu, saya mulai bertanya-tanya: mengapa saya bisa sebegitu pedulinya terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak memiliki hubungan langsung dengan kehidupan saya?
Semua itu berawal dari masa kecil. Sebagai anak perempuan ketiga dari empat bersaudara yang semuanya perempuan, saya justru tumbuh cukup akrab dengan sepak bola daripada dengan permainan yang identik dengan anak perempuan. Kedua orang tua saya menyukai sepak bola, sementara sebagian besar teman bermain saya adalah anak laki-laki. Dari mereka saya belajar menendang bola, bermain PlayStation, sampai mengenal dua nama yang hampir selalu berhasil membuat penggemar sepak bola berdebat: Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.
Lucunya, saya memilih Real Madrid bukan karena memahami taktik, sejarah klub, atau kualitas para pemainnya. Saya memilih Real Madrid karena teman saya mendukung Barcelona. Rasanya lebih menyenangkan kalau punya kubu sendiri. Dari pilihan yang awalnya sesederhana itu, perlahan muncul rasa memiliki yang semakin besar. Saya tidak lagi hanya menonton pertandingan, tetapi mulai merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri saya sendiri.
Barangkali memang begitu cara manusia bekerja. Kita senang menjadi bagian dari suatu kelompok, bahkan sebelum benar-benar memahami apa yang sebenarnya kita dukung. Tahun demi tahun berlalu, pengetahuan saya tentang sepak bola bertambah, tetapi keberpihakan saya kepada Ronaldo tidak ikut berubah. Saya bangga ketika ia menang, kecewa ketika ia kalah, bahkan pernah mendukung Cape Verde hanya karena berharap Argentina gagal melangkah lebih jauh.
Pada suatu titik, saya mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang agak ganjil dalam diri saya. Mengapa saya bisa merasa senang ketika orang yang saya dukung menang, padahal saya sama sekali tidak berkontribusi terhadap kemenangan itu? Mengapa saya bisa merasa kesal ketika pemain yang bahkan tidak mengenal saya mendapat kritik? Dan yang lebih aneh lagi, mengapa kekalahan sebuah tim bisa memengaruhi suasana hati seseorang yang hanya menontonnya dari jauh?
Psikologi memiliki penjelasan untuk hal tersebut. Ketika seseorang mengidolakan tokoh atau menjadi penggemar sebuah klub, identitas pribadi dapat perlahan bercampur dengan identitas kelompok yang ia dukung. Kemenangan kelompok terasa seperti kemenangan diri sendiri, sedangkan kekalahan dapat terasa seperti ancaman terhadap harga diri. Penjelasan itu masuk akal dan membantu saya memahami mengapa seorang penggemar bisa begitu emosional terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak berada dalam kehidupannya secara langsung.
Namun, memahami penyebabnya ternyata tidak otomatis menyelesaikan masalahnya. Saya tetap bisa kesal ketika Ronaldo kalah meskipun sudah tahu bahwa saya sedang mengalami keterikatan emosional sebagai penggemar. Karena itu, pertanyaan yang lebih mengganggu justru muncul: memangnya kenapa kalau kalah? Apa yang sebenarnya hilang dari diri saya ketika pemain yang saya dukung gagal memenangkan pertandingan?
Jawaban yang paling menenangkan justru saya temukan dalam Stoikisme. Epictetus, salah satu filsuf Stoik, membedakan perkara yang berada dalam kendali kita dan perkara yang berada di luar kendali kita. Pikiran, penilaian, dan tindakan kita berada dalam wilayah kendali, sedangkan banyak hal di luar diri kita termasuk hasil pertandingan, keputusan wasit, performa pemain, dan hasil akhir sebuah turnamen tidak berada di sana. Bagi saya, gagasan ini terdengar sederhana, tetapi justru karena sederhanalah ia terasa menampar.
Saya pernah menghabiskan waktu memperdebatkan keputusan pelatih yang tidak pernah meminta pendapat saya. Saya pernah merasa kesal karena keputusan wasit yang tidak mungkin saya ubah, bahkan pernah sedih berlebihan karena hasil pertandingan yang sudah selesai dan tidak mungkin diputar kembali. Saya juga pernah tersinggung oleh ejekan terhadap Ronaldo seolah-olah yang sedang dihina adalah diri saya sendiri. Padahal, satu-satunya hal yang benar-benar berada dalam kendali saya bukanlah skor pertandingan, melainkan bagaimana saya memilih untuk meresponsnya.
Kesadaran itu juga membuat saya melihat perilaku para penggemar di media sosial dengan cara yang berbeda. Pertandingan sering kali belum benar-benar selesai ketika peluit panjang dibunyikan. Para pemain mungkin sudah berjabat tangan dan kembali ke ruang ganti, tetapi para pendukung masih sibuk berdebat, saling mengejek, dan mencari kesalahan kubu lawan. Potongan video pertandingan digunakan berkali-kali untuk mempermalukan pemain tertentu, sementara kemenangan tim sendiri diperlakukan seperti pembuktian bahwa kelompok mereka lebih unggul.
Semakin saya mengamatinya, semakin saya sadar bahwa yang dipertaruhkan sering kali bukan sekadar hasil pertandingan. Yang ikut dipertaruhkan adalah identitas dan harga diri. Ketika sebuah tim menang, sebagian penggemar merasa dirinya ikut menang; ketika rival kalah, sebagian lainnya merasa dirinya memperoleh kemenangan tambahan. Sepak bola akhirnya tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tempat manusia mempertahankan ego dan mencari pembenaran atas identitas yang sudah mereka pilih.
Di sinilah Stoikisme menjadi relevan. Stoikisme tidak meminta saya berhenti menyukai Ronaldo atau berhenti mendukung Portugal. Saya masih boleh bersorak ketika ia mencetak gol dan kecewa ketika timnya kalah. Yang perlu diubah bukan rasa sukanya, melainkan cara saya menempatkan rasa suka tersebut dalam kehidupan saya. Saya boleh menikmati sepak bola, tetapi saya tidak perlu menyerahkan ketenangan diri kepada sesuatu yang sejak awal tidak berada dalam kendali saya.
Hal yang sama berlaku ketika kita menikmati kekalahan tim rival. Memang ada kepuasan sesaat ketika melihat kubu yang tidak kita sukai gagal. Namun, jika kebahagiaan kita selalu bergantung pada kekalahan orang lain, bukankah itu berarti suasana hati kita sebenarnya sedang dikendalikan oleh mereka? Kita mungkin mengira sedang merayakan kemenangan diri sendiri, padahal tanpa sadar kita membiarkan hasil yang dibuat orang lain menentukan kapan kita boleh merasa senang atau kecewa.
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa sepak bola memang tidak pernah hanya soal sepak bola. Di dalamnya ada identitas, kelompok, kebanggaan, ego, bahkan kebutuhan manusia untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu. Saya masih penggemar Ronaldo dan mungkin akan tetap kecewa ketika ia kalah. Bedanya, sekarang saya tahu bahwa kekalahan itu tidak perlu saya bawa terlalu jauh ke dalam diri saya.
Selama ini saya mengira sedang membela Ronaldo. Ternyata, yang paling sering saya bela adalah ego saya sendiri. Dan mungkin, setelah menyadarinya, saya tidak perlu berhenti menjadi penggemar untuk belajar melepaskan sesuatu yang memang tidak pernah berada dalam kendali saya.
Oleh: Layla Najmi Fakhirah

