Ketika Meliput Berarti Mempertaruhkan Nyawa: Belajar dari Hilangnya Lima Jurnalis di Selat Sunda
![]() |
| Foto Terakhir Lima Jurnalis yang hilang di Selat Sunda. Sumber: Istimewa/PFI |
Sejak Senin (7/9/2026) lalu, nama lima jurnalis, yaitu Muhammad Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Donal Husni, Yudhistiro Pranoto, dan Firdaus Wajidi menjadi buah bibir bukan karena karya jurnalistik yang mereka hasilkan, melainkan karena nasib mereka yang belum diketahui usai hilang kontak saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Ironisnya, mereka hilang ketika sedang menjalankan tugas jurnalistik untuk merekam peristiwa yang menjadi perhatian publik.
Kasus ini memaksa kita bertanya ulang, sejauh mana perlindungan yang sesungguhnya diberikan kepada jurnalis yang ditugaskan meliput lokasi berbahaya seperti kawasan gunung berapi aktif? Anggota DPR Komisi I, Junico Siahaan, turut menyoroti besarnya risiko yang dihadapi insan pers dalam kasus ini. Namun, perhatian terhadap keselamatan jurnalis seharusnya tidak baru mengemuka ketika sebuah peristiwa telah terjadi. Ia perlu menjadi bagian dari persiapan sebelum seorang jurnalis berangkat ke lapangan.
Ketika Berita Membawa Jurnalis Mendekati Bahaya
Selama ini, wacana kebebasan pers di Indonesia lebih sering dibicarakan melalui isu intimidasi, kriminalisasi, atau pembungkaman terhadap jurnalis oleh pihak berkuasa. Namun, kasus Selat Sunda memperlihatkan sisi lain yang tidak kalah penting, yaitu keselamatan fisik jurnalis ketika menjalankan tugas, terutama di wilayah yang memiliki risiko bencana.
Jurnalisme membutuhkan kehadiran. Ada peristiwa yang tidak cukup dipahami hanya melalui laporan dari kejauhan. Jurnalis perlu melihat, mendengar, dan mengalami langsung situasi di lapangan agar informasi yang disampaikan kepada publik tidak kehilangan konteks. Namun, kebutuhan untuk hadir tersebut tidak seharusnya menghapus pertanyaan mengenai batas aman.
Dalam peliputan wilayah berisiko, keberanian tidak berdiri sendiri. Ia semestinya berjalan bersama pengetahuan mengenai kondisi lokasi, komunikasi darurat, perlengkapan keselamatan, hingga prosedur evakuasi. Sebab, semakin dekat jurnalis dengan pusat peristiwa, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan bahwa kedekatan tersebut tidak berubah menjadi ancaman yang sebenarnya dapat dihindari.
Keberanian Bukan Berarti Mengabaikan Keselamatan
Pertanyaan kemudian bergeser kepada institusi media. Bukan untuk menunjuk siapa yang bersalah sebelum seluruh fakta diketahui, melainkan untuk melihat apakah keselamatan jurnalis telah ditempatkan sebagai bagian dari standar profesional dalam kerja jurnalistik.
Apakah jurnalis yang ditugaskan ke wilayah rawan bencana memperoleh informasi yang memadai mengenai kondisi lapangan? Apakah terdapat pelatihan keselamatan, alat komunikasi darurat, serta standar operasional prosedur khusus untuk menghadapi situasi yang dapat berubah sewaktu-waktu?
Fakta bahwa tim SAR sendiri harus mempertimbangkan keselamatan ketika melakukan pencarian di sekitar Pulau Sertung menjadi pengingat bahwa wilayah tersebut bukan ruang yang bebas risiko. Jika pencarian terhadap para jurnalis pun harus dilakukan dengan memperhitungkan kondisi kawasan, maka keselamatan seharusnya menjadi pertimbangan sejak sebelum peliputan dimulai.
Keberanian dalam jurnalistik memang dibutuhkan. Namun, keberanian tidak seharusnya diukur dari seberapa dekat seseorang berani mendatangi bahaya. Jurnalis yang bekerja dengan mempertimbangkan keselamatan bukan berarti kurang berani. Justru, memahami risiko dan mengetahui kapan harus mengambil jarak merupakan bagian dari profesionalitas itu sendiri.
Berita Penting, Nyawa Bukan Harga yang Wajar
Terlepas dari hasil pencarian yang masih berlangsung, kasus ini semestinya menjadi momentum bagi institusi media untuk mengevaluasi kembali standar keselamatan dalam liputan lapangan berisiko tinggi. Perlindungan terhadap jurnalis tidak berhenti pada kebebasan untuk mencari dan menyampaikan informasi. Perlindungan juga berarti memastikan mereka memiliki kesempatan untuk kembali dengan selamat setelah menjalankan tugas.
Publik memang membutuhkan berita. Kita membutuhkan informasi ketika gunung menunjukkan aktivitasnya, ketika bencana terjadi, dan ketika sebuah peristiwa mengancam kehidupan banyak orang. Namun, kebutuhan tersebut tidak seharusnya membuat keselamatan jurnalis dianggap sebagai harga yang wajar dari sebuah berita.
Pada akhirnya, di balik setiap gambar, laporan, dan informasi yang sampai kepada kita, terdapat manusia yang memilih untuk berada di sana. Mereka bukan sekadar mata yang dikirim untuk melihat peristiwa, melainkan manusia yang juga memiliki hak untuk pulang.
Kita berharap yang terbaik, kelima jurnalis dan tiga awak kapal itu ditemukan dalam keadaan selamat.

