Mengapa Pendidikan Kita Makin Tersingkir di Negeri Sendiri
![]() |
| Anak-anak yang ceria melambaikan tangan dari jendela kelas, menunjukkan suasana sekolah yang menyenangkan. Sumber: Pexels.com (muallim nur) |
Pernahkah kita bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan dunia pendidikan di Indonesia hari ini? Di satu sisi, pemerintah selalu membanggakan angka-angka fantastis saat bicara tentang anggaran sekolah. Namun disisi lain, jika kita melihat kondisi lapangan, mulai dari bangunan sekolah yang hampir roboh, sekolah yang belum tersebar merata, hingga nasib guru-guru yang belum sejahtera, rasanya seakan negara tidak lagi melihat betapa pentingnya pendidikan bagi masa depan anak bangsa.
Kebingungan masyarakat makin menjadi-jadi ketika mendengar kabar bahwa anggaran pendidikan sering disebut-sebut membengkak, tetapi bantuan riil untuk sekolah justru terasa makin sempit. Janji manis pemerintah untuk memprioritaskan sekolah seolah menguap begitu saja di tengah himpitan berbagai kebijakan baru. Publik pun wajar jika meragukan satu hal mendasar, yaitu dimana sebenarnya letak kesadaran dan kepedulian pemerintah terhadap masa depan pendidikan anak bangsa?
Anggaran Besar yang Ternyata Cuma Angka di Atas Kertas
Setiap tahun, pemerintah dan DPR RI selalu mengumumkan bahwa anggaran pendidikan sudah memenuhi syarat konstitusi, yaitu sebesar 20 persen dari total belanja negara. Untuk APBN 2026 saja, angka yang disahkan mencapai Rp 769,1 triliun. Angka ratusan triliun ini sepintas terdengar sangat besar dan membuat kita mengira bahwa seluruh sekolah di Indonesia akan mendapat bantuan yang melimpah.
Namun kenyataannya tidak semanis itu. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebagai pihak utama yang mengurusi sekolah dasar, sekolah menengah, dan para guru hanya mendapatkan pagu anggaran sebesar Rp 55,4 triliun. Artinya, lembaga yang memegang kunci utama pendidikan anak-anak kita cuma menerima kurang lebih 7 persen dari total dana pendidikan nasional. Inilah alasannya mengapa anggaran pendidikan terkesan "dipangkas" di tingkat sekolah, meskipun secara keseluruhan pemerintah mengklaim angkanya sangat besar.
Pendidikan Tersisih di Tengah Gemerlap Program Makan Gratis
Lantas, ke mana perginya sisa ratusan triliun anggaran pendidikan tersebut? Jawabannya ada pada pergeseran fokus program pemerintah. Porsi terbesar dari anggaran pendidikan kini justru disedot oleh Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menelan dana hingga Rp 223 triliun.
Memberikan makanan bergizi bagi anak-anak sekolah memang tindakan yang baik, tetapi menumpangkan pembiayaannya di atas pos anggaran pendidikan adalah langkah yang kurang bijak. Ketika polemik pelaksanaan program makan gratis terus menyita perhatian publik, perbaikan sekolah yang rusak, pengadaan buku, dan peningkatan gaji guru honorer justru makin dikesampingkan. Pemerintah seolah lupa bahwa nutrisi fisik tidak akan ada artinya jika tempat anak-anak belajar dibiarkan terbengkalai.
Dimana Kepedulian Nyata Negara untuk Masa Depan Anak Bangsa?
Kondisi pendidikan kita makin memprihatinkan jika melihat rekam jejak penyerapan anggaran. Pada tahun anggaran 2025, alokasi dana pendidikan bahkan tidak berhasil menyentuh target 20 persen dan hanya terealisasi sebesar 19,1 persen dari APBN. Alasan yang disampaikan pemerintah berkutat pada masalah teknis kesiapan kementerian serta pengalihan dana untuk bencana alam.
Hal ini membuktikan bahwa pendidikan belum benar-benar dijadikan skala prioritas utama yang dilindungi secara utuh oleh negara. Pemerintah tidak boleh lagi menutup mata dan sekadar berlindung di balik angka-angka statistik APBN. Sudah saatnya kesadaran itu dibuktikan dengan tindakan nyata, yaitu mengembalikan anggaran pendidikan ke dalam ruang kelas, mensejahterakan guru, dan memastikan setiap anak Indonesia mendapat hak belajar yang layak.

