Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

  • Rubrik
  • _Lini Masa
  • _Dua Sisi
  • _Dialektika
  • _90s
  • Jurnalisme Bertutur
  • Tajuk Rencana
  • Liputan
  • _Wawancara
  • _Liputan Mendalam
  • _Sosial dan Politik
  • _Isu Kontemporer
  • _Cerita Perjalanan
  • _Dibalik Peristiwa
  • _Jurnalisme Infografik
  • _Audio-visual
  • _Rilis Kegiatan
  • Suara Mahasiswa
  • Majalah Kanal Perspektif
  • Lensa Peristiwa
  • Donasi
  • Beranda
  • Isu Kontemporer

Kita Akan Menjadi Gaza: Catatan dari Pinggir “Ngerumpi Bijak” Pesta Literasi NDBF 7.0

Oleh Redaksi Kanal Perspektif
Oktober 12, 2026

NDBF 7.0 Hadirkan Literasi dan Seni di tengah Zaman Peralihan. Foto: Satriya Ramadani


Zaman yang menjanjikan beribu kemajuan kini justru membawa kita pada ujung kehancuran. Hidup dalam ketidakpastian kian diperparah oleh munculnya berbagai krisis tak berkesudahan yang dominan diciptakan oleh manusia. Berangkat dari situ, sepanjang 12–16 Agustus 2026 lalu diselenggarakan pesta literasi Nusantara Dharma Book Festival di kota Bandung. Mulai dari bazar buku, talkshow, lokakarya, dan penampilan seni, NDBF 7.0 merangkul berbagai penerbit, komunitas akar rumput, akademisi, dan seniman lokal Bandung untuk bersama-sama bertukar wawasan seputar literasi dan aktivisme sosial. Memasuki tahun ketujuh, tema yang diangkat dalam pesta literasi tersebut adalah “Pelita di Kalantara”.


Kalantara, sebuah istilah rekaan dari ‘kala’ yang berarti waktu dan ‘antara’ yang berarti ruang di antara. Ia adalah ruang peralihan di mana suatu zaman mendekati akhir, sementara zaman baru belum sepenuhnya lahir. Dalam salah satu rangkaian acara NDBF 7.0, talkshow Ngerujak “Ngerumpi Bijak”: Gotong Royong di Zaman Peralihan bersama komunitas BandungBergerak, Aksara Rembaka, Growing Sisters, dan Wilwatikta Foundation, membedah persoalan sistemik yang sedang terjadi yang kemudian menciptakan satu dorongan yang sama: kesadaran akan pentingnya kerja-kerja kolektif dan harapan. 


Di panggung NDBF 7.0, komunitas saling bertukar pengetahuan tentang aktivisme sosial di tengah krisis. BandungBergerak, misalnya, membuat program “Kelas Liar” yang dijalankan setiap bulan untuk membuka ruang diskusi menyoal krisis-krisis yang tengah terjadi saat ini bersama warga yang dipinggirkan. Di saat sirkulasi relasi antara lingkungan akademik dan komunitas akar rumput tidak terhubung, “Kelas Liar” diharapkan menjadi penyambung banyak pihak untuk bisa bersuara dan bergerak. Sementara itu, Growing Sisters konsisten merawat ruang aman bagi pemberdayaan perempuan dan dalam salah satu kegiatannya, “When Hands Speak, Hearts Connect,” mereka juga berkolaborasi dengan Komunitas Teman Tuli untuk belajar bahasa isyarat. Adapun Aksara Rembaka sebagai komunitas berbasis pendidikan yang fokus dalam menggerakkan literasi anak dan sosialisasi berkelanjutan, serta Wilwatikta Foundation sebagai yayasan berbasis filsafat Buddhis yang bergerak di berbagai bidang kegiatan sosial, mulai dari penghijauan, donasi sembako, program pendidikan karakter, hingga beasiswa untuk anak-anak kurang mampu.


Di tengah dunia yang limbung dan negara membiarkan warganya bertarung sendirian dengan ketidakpastian, tentu benar bahwa yang dibutuhkan sekarang adalah kesadaran bergotong-royong. Tidak ada individu maupun komunitas yang dapat berdiri sendiri. Dalam menghadapi krisis, ketahanan bukan hanya soal bertahan hidup secara fisik, tetapi juga siasat, pengetahuan, dan solidaritas untuk bisa saling menjaga. Namun sepanjang diskusi tersebut berlangsung, satu pertanyaan pesimis muncul yang kemudian menjadi muara dalam tulisan ini: Kita memikirkan segala cara untuk bisa bertahan bersama, lalu kita berpikir bahwa dengan cara itulah harapan baik akan tetap ada. Persoalannya, meskipun pemimpin terus bergonta-ganti, setiap hari yang diobral hanya janji. Nyatanya, realita di bawah tidak pernah membaik. Jika negara sendiri tetap tidak berbenah, apa yang akan berubah? 


Ketika kita tidak secara langsung merasakan hidup dalam ketakutan, nasib buruk, dan penantian, akan mudah untuk berbicara tentang harapan baik. Harapan bisa hadir kapan saja seperti makanan yang selalu tersedia di meja makan kita setiap hari. Namun bagi mereka yang sepanjang hidup berada di ubin ketidakadilan dan pembiaran berkepanjangan, mereka tidak membutuhkan harapan. Jangankan berharap, di tengah gejolak krisis seperti sekarang mereka tidak pernah diberi waktu untuk berduka, merenung, dan mengenang.


Catatan ini tidak bermaksud mengesampingkan kerja-kerja kolektif yang dilakukan berbagai komunitas untuk saling terhubung dan bertahan. Sebab, semua penjabaran di sini pun tidak menawarkan solusi yang lebih baik. Justru berpijak pada diskusi tersebut, ada pengamatan lain yang ditemukan dan menjadi muara pembahasan: membaca Indonesia hari ini, memandang masa depan yang sedang berjalan menuju Gaza.


Membaca Indonesia

Di Aceh dan Sumatera, air meninggalkan luka dan trauma, hidup dari satu pengungsian ke pengungsian lain adalah kelangsungan hidup mereka. Sementara di wilayah lain, kekeringan ekstrem sudah terjadi dan air bersih pun harus dibeli. Di Nusa Tenggara, warga morat-marit menghitung jumlah sanak-saudara yang tersisa akibat gempa juga tak kunjung diperhatikan negara. Dari kota-kota besar hingga pelosok, anak-anak yang kelaparan dibunuh dengan seompreng makanan beracun. Dari Papua hingga Kalimantan, tanah adat dirampas, karhutla yang merupakan bencana besar peninggalan Soeharto kembali terulang.

 

Pepohonan yang hidup kokoh ribuan tahun, hutan yang menjadi sumber kehidupan banyak makhluk, dalam sekejap berubah menjadi arang dan kabut asapnya menyebar seperti penyakit. Sekolah-sekolah di pedalaman reyot, sekolah-sekolah di kota gedongan menciptakan manusia robot, universitas mengalami kemunduran. Genosida, ia di mana-mana.


Dalam hitungan hari atau minggu, berita adalah hal yang selalu ditunggu oleh mereka yang terdampak langsung, berharap agar dunia tidak diam begitu saja melihat penderitaan. Namun dengan pengabaian yang berkepanjangan, mereka tidak lagi merasa bahwa berita itu penting untuk diikuti. Berita hanya mengabarkan jumlah angka, sementara yang mereka butuhkan adalah pulang ke rumah. Lambat laun kematian menjadi hal yang normal, penantian dan kekhawatiran pun menjadi hal yang biasa. Ribuan orang dibiarkan bertarung dengan cuaca dan nasib buruk tanpa perlindungan. Belum pulih dari trauma, krisis lainnya muncul. 


Anehnya, ketika kerusakan terjadi di mana-mana, sering pula kita berlindung di balik kata “bencana alam”. Sekali pun ia memang tak terhindarkan, bencana alam tidak bisa dilihat secara netral. Membicarakan bencana bukan hanya tentang alam, tetapi juga politik. Dalam arena relasi kuasa, ada beberapa hal yang patut dipertanyakan ketika sebuah krisis terjadi: siapa yang punya akses kontrol, siapa yang paling diuntungkan, serta siapa sebenarnya yang paling dan harus bertanggung jawab. Berkaca dari tindakan pemerintah yang acuh dalam penanganan bencana, akses bantuan warga sipil dipersulit dan dibatasi, serta kebijakan-kebijakan yang bersifat populis menunjukkan bahwa sistem negara gagal memperbaiki kualitas hidup rakyat.


Kita Sedang Menuju Gaza

Diskusi panjang malam itu mengingatkan pada salah satu buku yang pernah saya baca, “A Diary of Genocide: Catatan Pembantaian Palestina 7 Oktober–30 Desember 2023” yang ditulis oleh Atef Abu Saif. Dari hari ke-1 hingga hari ke-85, buku tersebut menyajikan catatan harian sang penulis selama hidup dengan berpindah-pindah kamp pengungsian, akses bantuan internasional dipersulit dan dibatasi, narasi-narasi media global yang turut meminggirkan Palestina, serta terjadi pembiaran atas kebrutalan ekstrem yang dilakukan oleh Israel. Sampai sekarang. 


Kekejaman yang dilakukan Israel terhadap Palestina lebih pantas disebut sebagai genosida, bukan perang atau sebatas konflik Palestina-Israel. ‘Perang’ dan ‘konflik’ adalah dua kata yang diplomatis; sebuah bahasa yang sengaja dipilih untuk secara halus menutup fakta yang terjadi di lapangan bahwa kejahatan besar sedang terjadi. Membaca buku “A Diary of Genocide” bertepatan dengan peristiwa banjir bandang yang menenggelamkan Sumatera dan Aceh pada November 2025 menuntun saya untuk melihat serangkaian pola peristiwa yang sama.


Di Gaza, mereka menghitung jam dengan jumlah serangan misil. Di Indonesia, ada orang-orang yang menandai hari-hari dengan jumlah keluarga yang binasa. Di Gaza, mereka belajar lebih banyak tentang ketakutan ketika hujan turun menerbangkan tenda-tenda pengungsian. Di Indonesia, kita melihat hal yang serupa ketika Sumatera dan Aceh dilanda banjir. Kita bisa bertahan tiga, empat, lima hari tanpa makanan, tetapi tidak ada satu pun di antara kita yang sanggup bertahan di bawah hujan semalaman. Di Gaza, anak-anak yang tidur di ranjang dibunuh dengan bom. Di Indonesia, anak-anak yang duduk di kelas dibunuh dengan makanan beracun gratis. Dan untuk sekali lagi, tidak ada satu pun yang bisa menjelaskan mengapa anak-anak harus dibunuh. Baik Gaza maupun Indonesia, semuanya berubah menjadi noda darah.

 

Membaca Indonesia hari ini rasanya seperti membayangkan bahwa kini kita sedang menuju Gaza. “Gaza tiba di halaman rumah kita, Gaza adalah model masa depan dunia,” pikir saya. 


Ambil saja salah satu contoh nyata: program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Sepanjang program ini berjalan, tak terhitung lagi jumlah siswa yang menjadi korban, mulai dari keracunan hingga menyebabkan kematian. Ironisnya, pemerintah terus-menerus merawat penyangkalan, menutup mata dari bukti-bukti gamblang yang tersaji di lapangan. Pembiaran ini memunculkan satu kesimpulan mengerikan: ada upaya sistematis untuk menghapus generasi masa depan kita. Jika hal ini dikaitkan dengan latar belakang militer Prabowo—yang dididik untuk berpikir kalkulatif dan penuh strategi, meski memiliki rekam jejak militer yang buruk—pola ini terasa bukanlah sebuah kebetulan. Hal ini semakin menguatkan pandangan saya bahwa apa yang terjadi di negara ini adalah sebuah genosida terstruktur; persis seperti bagaimana Israel menerapkan taktik militernya secara sistematis dalam kekejamannya di Palestina.


Di negeri yang kian mahir memelihara kelaparan dan kerusakan, Indonesia hari ini adalah Indonesia yang hanya menyisakan latar belakang dengan kabut hitam. Jika di Palestina mereka semua dibunuh oleh tentara-tentara Israel, di sini kita dibunuh oleh negara sendiri. Negara yang sibuk berpesta pora di atas bangkai anak-anaknya, yang tidak pernah ada saat kita membutuhkannya. Dan untuk sekali lagi, kita bisa melihat wajah Israel itu di sosok pemimpin kita sendiri.


Kini, pertanyaannya bukan lagi sebatas berapa lama lagi kita akan bertahan di sini, tetapi mengapa dunia menjadi begitu gila sampai tidak bisa lagi mengucapkan kata “berhenti” dan “cukup”?


Informasi lebih dalam mengenai acara, komunitas, dan buku-buku yang dibahas di Nusantara Dharma Book Festival dapat diikuti di Instagram @dharmabookfest dan @lamrimnesiastore.




Oleh: Iqa Kinanti Nandakasih - Junior writer dan alumnus Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran. Berpijak pada disiplin humaniora, perhatian penuh dalam keseharian terletak pada ruang-ruang diskusi seputar sastra, budaya, seni, manusia, gender, dan politik.

Tags:
  • Isu Kontemporer
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tulisan terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tulisan terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan
Posting Komentar
Batal
Banyak Dibaca
  • Di Balik Angka Karhutla di Media, Ada Jeritan Masyarakat Kalimantan

    Oktober 07, 2026
    Di Balik Angka Karhutla di Media, Ada Jeritan Masyarakat Kalimantan
  • Eskalasi Konflik Palestina dan Urgensi Kepemimpinan Global Umat

    Oktober 06, 2026
    Eskalasi Konflik Palestina dan Urgensi Kepemimpinan Global Umat
  • Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo

    Juni 24, 2023
    Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo
  • Dari Pengkritik Vokal Menjadi Penasihat Presiden di Lingkar Kekuasaan Prabowo

    Oktober 03, 2026
    Dari Pengkritik Vokal Menjadi Penasihat Presiden di Lingkar Kekuasaan Prabowo
  • Polemik Ijazah Satu Keluarga

    Oktober 08, 2026
    Polemik Ijazah Satu Keluarga
Gila Temax
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Kerja Sama
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Hak Jawab
  • Disclaimer
  • Pojok Literasi
  • Liputan Mendalam
2026 © Kanal Perspektif - All rights reserved.