Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

  • Rubrik
  • _Lini Masa
  • _Dua Sisi
  • _Dialektika
  • _90s
  • Jurnalisme Bertutur
  • Tajuk Rencana
  • Liputan
  • _Wawancara
  • _Liputan Mendalam
  • _Sosial dan Politik
  • _Isu Kontemporer
  • _Cerita Perjalanan
  • _Dibalik Peristiwa
  • _Jurnalisme Infografik
  • _Audio-visual
  • _Rilis Kegiatan
  • Suara Mahasiswa
  • Majalah Kanal Perspektif
  • Lensa Peristiwa
  • Donasi
  • Beranda
  • Lini Masa

Mengapa Negara Lebih Takut Pada Sepeda Pedagang Singkong Dibanding Perampok Uang Rakyat?

Oleh Arnetta Rinjani
November 04, 2026

 

Andi Supriyatin seorang pedagang singkong dari Jawa Tengah. Sumber: Kompas.com

Ada jarak sejauh 382 kilometer yang terhampar antara Pekalongan dan Jakarta. Bagi Andi Supriyatin (41), seorang pedagang singkong dari Jawa Tengah, jarak yang teramat jauh itu tidak ditempuh dengan bus ber-AC atau kereta cepat, melainkan dengan kayuhan sepeda jengki tua. Berhari-hari ia menembus terik matahari dan debu jalanan Jalur Pantura, membawa satu misi sederhana di dadanya: menyuarakan ketidakadilan dan mendesak pengesahan RUU Perampasan Aset pada momen Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober.

Namun, alih-alih didengar aspirasinya di Ibu Kota, langkah Pak Andi justru terhenti di tangan aparat penegak hukum. Ia ditangkap oleh Bareskrim Polri dan ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan tuduhan penghasutan melalui media sosial.

Peristiwa ini menyisakan pertanyaan yang teramat perih bagi demokrasi kita,”mengapa negara tampak begitu reaktif dan takut pada kayuhan sepeda seorang pedagang singkong, sementara langkah pemberantasan korupsi dan pengejaran para perampok uang rakyat berjalan begitu lambat?”

Gowes 382 Km dan Suara Keadilan dari Akar Rumput

Aksi Pak Andi mengayuh sepeda ratusan kilometer bukanlah bentuk pencarian sensasi. Dalam tatanan sosial yang makin peka terhadap jeritan rakyat bawah, cara-cara simbolis dan sarat pengorbanan fisik seperti ini seringkali menjadi satu-satunya bahasa tersisa bagi warga biasa agar suara mereka dilirik oleh pemegang kekuasaan.

Di atas sepedanya, Pak Andi mengangkut ketidakpastian hidup rakyat kecil mulai dari tingginya harga kebutuhan pokok hingga lambatnya pengesahan aturan hukum yang berpihak pada pemberantasan korupsi. Keberaniannya menempuh perjalanan fisik yang berat merefleksikan keteguhan niat seorang warga negara yang masih percaya bahwa suara di jalanan dapat mengetuk nurani para pemimpin bangsa.

Ironi Sumpah Pemuda dan Jerat Hukum yang Kaku

Sangat ironis ketika penangkapan ini terjadi tepat di hari peringatan Sumpah Pemuda sebuah momentum sejarah yang lahir dari keberanian warga bangsa dalam menyuarakan perubahan. Ketika Pak Andi tiba di Jakarta untuk ikut menyampaikan aspirasi bersama ribuan mahasiswa dan elemen buruh, ia justru disambut oleh penangkapan.

Penerapan pasal-pasal penghasutan di media sosial terhadap warga yang mengekspresikan kritik dan ajakan berdemokrasi memperlihatkan betapa rentannya ruang sipil kita hari ini. Ketika kritik dan panggilan moral di ruang digital dengan mudah ditafsirkan sebagai bentuk ancaman atau "penghasutan terhadap penguasa", ada pesan menakutkan (chilling effect) yang sedang dikirimkan kepada publik: bahwa bersuara kritis kini memikul resiko kriminalisasi yang nyata.

Dampak pada Keluarga dan Refleksi Ruang Sipil

Di balik penetapan status tersangka tersebut, ada kenyataan sosial yang tak kalah memilukan. Pak Andi adalah tulang punggung keluarga kecilnya di Pekalongan. Surat panggilan pemeriksaan Bareskrim yang diterima sang istri, Ismawati, tidak hanya menghadirkan kepanikan hukum, tetapi juga ancaman langsung terhadap kelangsungan dapur keluarga mereka.

Kasus ini menjadi cermin retak bagi penegakan hukum di Indonesia. Hukum seharusnya hadir sebagai pelindung bagi yang lemah dan alat untuk menegakkan keadilan sosial, bukan justru menjadi instrumen yang kaku dan tajam mengikis keberanian warga kecil yang ingin berpartisipasi dalam demokrasi.

Menolak Bungkam di Tengah Keterbatasan

Kisah perjalanan sepeda Pak Andi Supriyatin mengajarkan kita bahwa kerinduan akan keadilan tidak pernah surut, bahkan di tengah keterbatasan ekonomi yang menghimpit. Mengabaikan atau menindak keras suara-suara jujur dari akar rumput hanya akan memperlebar jurang ketidakpercayaan antara rakyat dan negara.

Sudah saatnya aparat penegak hukum dan pemerintah mengedepankan pendekatan humanis serta menjamin perlindungan atas hak kebebasan berpendapat. Sebab, demokrasi yang sehat tidak diukur dari seberapa sunyinya jalanan dari aksi protes, melainkan dari seberapa aman seorang pedagang singkong mengayuh sepedanya untuk menyuarakan kebenaran di negeri sendiri.

Tags:
  • Lini Masa
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tulisan terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tulisan terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan
Posting Komentar
Batal
Banyak Dibaca
  • Mengapa Tren Stop The Wedding Jadi Suara Luka Kolektif Anak Muda

    Oktober 16, 2026
    Mengapa Tren Stop The Wedding Jadi Suara Luka Kolektif Anak Muda
  • Berapa Banyak Porsi Kekalahan bagi Perempuan WNI?

    Oktober 30, 2026
    Berapa Banyak Porsi Kekalahan bagi Perempuan WNI?
  • Sound Healing di Yogyakarta menjadi Sarana Menemukan Ruang untuk Diri Sendiri

    Oktober 30, 2026
    Sound Healing di Yogyakarta menjadi Sarana Menemukan Ruang untuk Diri Sendiri
  • Budaya 'Asal Bapak Senang' dan Ucapan 'Saya Dapat Laporan' Presiden Prabowo

    Oktober 27, 2026
    Budaya 'Asal Bapak Senang' dan Ucapan 'Saya Dapat Laporan' Presiden Prabowo
  • Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo

    Juni 24, 2023
    Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo
Gila Temax
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Kerja Sama
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Hak Jawab
  • Disclaimer
  • Pojok Literasi
  • Liputan Mendalam
2026 © Kanal Perspektif - All rights reserved.