Sunyi di Medan Perang: Membaca All Quiet on the Western Front
![]() |
| Ilustrasi cuplikan adegan dari All Quiet on the Western Front (2022). Sumber: Netflix |
All Quiet on the Western Front (2022), film adaptasi novel klasik karya Erich Maria Remarque yang disutradarai oleh Edward Berger, menghadirkan potret perang dari sudut pandang yang sunyi dan tidak heroik. Berlatar Perang Dunia I, film ini mengikuti pengalaman seorang tentara muda Jerman yang perlahan kehilangan keyakinan, arah, dan kemanusiaannya di medan tempur.
Alih-alih menampilkan perang sebagai kemenangan atau strategi, film ini memilih mendekat pada tubuh dan rasa, suara nafas yang berat, lumpur yang melekat, dan wajah-wajah lelah yang nyaris tanpa harapan. Pendekatan inilah yang membuat All Quiet on the Western Front terasa relevan dibaca hari ini, ketika perang kerap dipahami sebagai peristiwa jauh dan abstrak.
Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada penggunaan backsound dan efek audio. Musik tidak hadir sebagai penguat emosi yang megah, melainkan sebagai bunyi berulang yang menghantui. Dentuman meriam, suara nafas yang terengah, hingga keheningan setelah ledakan justru menjadi elemen paling menekan.
Pilihan audio ini membuat penonton tidak diberi ruang nyaman. Tidak ada momen kemenangan yang dirayakan lewat musik dramatis. Yang tersisa hanyalah suara mesin perang dan tubuh manusia yang kelelahan. Dalam banyak adegan, keheningan terasa lebih keras daripada ledakan.
Secara visual, film ini banyak menggunakan sudut pengambilan gambar yang dekat dan rendah. Kamera sering berada sejajar dengan tubuh para tentara, mengikuti mereka di parit berlumpur, di tengah hujan peluru, dan dalam kondisi paling rapuh. Teknik ini membuat penonton seolah ikut terjebak, tanpa jarak aman untuk mengamati.
Tidak ada estetika perang yang dipoles. Lumpur, darah, dan wajah-wajah lelah ditampilkan apa adanya. Kamera tidak berusaha memperindah penderitaan, justru menekankannya sebagai sesuatu yang banal dan berulang. Perang hadir sebagai keseharian yang suram, bukan peristiwa heroik.
Yang membuat All Quiet on the Western Front terasa relevan adalah keberaniannya menolak narasi pahlawan. Tidak ada tokoh yang benar-benar menang. Yang ada hanyalah individu-individu muda yang perlahan kehilangan arah, keyakinan, dan kemanusiaannya.
Film ini tidak menawarkan pelajaran moral secara eksplisit. Ia hanya memperlihatkan bagaimana perang bekerja: menghancurkan tubuh, pikiran, dan masa depan, tanpa peduli siapa yang berada di pihak “benar”.
Sebagai sebuah film perang, All Quiet on the Western Front justru terasa sebagai film anti-perang. Ia tidak berteriak, tidak menggurui, dan tidak memberi jarak emosional. Melalui suara, gambar, dan ritme yang menekan, film ini mengajak penonton menyadari satu hal sederhana, yaitu perang selalu lebih dekat, lebih sunyi, dan lebih merusak daripada yang sering kita bayangkan.
