Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

  • Rubrik
  • _Lini Masa
  • _Dua Sisi
  • _Dialektika
  • _90s
  • Jurnalisme Bertutur
  • Tajuk Rencana
  • Liputan
  • _Wawancara
  • _Liputan Mendalam
  • _Sosial dan Politik
  • _Isu Kontemporer
  • _Cerita Perjalanan
  • _Dibalik Peristiwa
  • _Jurnalisme Infografik
  • _Audio-visual
  • _Rilis Kegiatan
  • Suara Mahasiswa
  • Majalah Kanal Perspektif
  • Lensa Peristiwa
  • Donasi
  • Beranda
  • Majalah Kanal Perspektif

Sunyi di Medan Perang: Membaca All Quiet on the Western Front

Oleh Arnetta Rinjani
Februari 18, 2026

 

Ilustrasi cuplikan adegan dari All Quiet on the Western Front (2022). Sumber: Netflix

All Quiet on the Western Front (2022), film adaptasi novel klasik karya Erich Maria Remarque yang disutradarai oleh Edward Berger, menghadirkan potret perang dari sudut pandang yang sunyi dan tidak heroik. Berlatar Perang Dunia I, film ini mengikuti pengalaman seorang tentara muda Jerman yang perlahan kehilangan keyakinan, arah, dan kemanusiaannya di medan tempur.

Alih-alih menampilkan perang sebagai kemenangan atau strategi, film ini memilih mendekat pada tubuh dan rasa, suara nafas yang berat, lumpur yang melekat, dan wajah-wajah lelah yang nyaris tanpa harapan. Pendekatan inilah yang membuat All Quiet on the Western Front terasa relevan dibaca hari ini, ketika perang kerap dipahami sebagai peristiwa jauh dan abstrak.

Suara yang Menghantui, bukan mengagungkan

Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada penggunaan backsound dan efek audio. Musik tidak hadir sebagai penguat emosi yang megah, melainkan sebagai bunyi berulang yang menghantui. Dentuman meriam, suara nafas yang terengah, hingga keheningan setelah ledakan justru menjadi elemen paling menekan.

Pilihan audio ini membuat penonton tidak diberi ruang nyaman. Tidak ada momen kemenangan yang dirayakan lewat musik dramatis. Yang tersisa hanyalah suara mesin perang dan tubuh manusia yang kelelahan. Dalam banyak adegan, keheningan terasa lebih keras daripada ledakan.

Kamera yang dekat dan tidak menghindar 

Secara visual, film ini banyak menggunakan sudut pengambilan gambar yang dekat dan rendah. Kamera sering berada sejajar dengan tubuh para tentara, mengikuti mereka di parit berlumpur, di tengah hujan peluru, dan dalam kondisi paling rapuh. Teknik ini membuat penonton seolah ikut terjebak, tanpa jarak aman untuk mengamati.

Tidak ada estetika perang yang dipoles. Lumpur, darah, dan wajah-wajah lelah ditampilkan apa adanya. Kamera tidak berusaha memperindah penderitaan, justru menekankannya sebagai sesuatu yang banal dan berulang. Perang hadir sebagai keseharian yang suram, bukan peristiwa heroik.

Perang tanpa pahlawan

Yang membuat All Quiet on the Western Front terasa relevan adalah keberaniannya menolak narasi pahlawan. Tidak ada tokoh yang benar-benar menang. Yang ada hanyalah individu-individu muda yang perlahan kehilangan arah, keyakinan, dan kemanusiaannya.

Film ini tidak menawarkan pelajaran moral secara eksplisit. Ia hanya memperlihatkan bagaimana perang bekerja: menghancurkan tubuh, pikiran, dan masa depan, tanpa peduli siapa yang berada di pihak “benar”.

Sebagai sebuah film perang, All Quiet on the Western Front justru terasa sebagai film anti-perang. Ia tidak berteriak, tidak menggurui, dan tidak memberi jarak emosional. Melalui suara, gambar, dan ritme yang menekan, film ini mengajak penonton menyadari satu hal sederhana, yaitu perang selalu lebih dekat, lebih sunyi, dan lebih merusak daripada yang sering kita bayangkan.
Tags:
  • Majalah Kanal Perspektif
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tulisan terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tulisan terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan
Posting Komentar
Batal
Banyak Dibaca
  • Banjir Jawa Barat: Warisan Tata Ruang yang Terabaikan

    Februari 17, 2026
    Banjir Jawa Barat: Warisan Tata Ruang yang Terabaikan
  • Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Tapi Tak Boleh Digugat

    Februari 15, 2026
    Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Tapi Tak Boleh Digugat
  • Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo

    Juni 24, 2023
    Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo
  • Can This Love Be Translated? Seni Menerjemahkan Luka dan Mengenali Diri

    Januari 22, 2026
    Can This Love Be Translated? Seni Menerjemahkan Luka dan Mengenali Diri
  • Sinetron Lewat! Gelombang Drama Pendek Kini Kuasai FYP dan Reels

    Februari 09, 2026
    Sinetron Lewat! Gelombang Drama Pendek Kini Kuasai FYP dan Reels
Gila Temax
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Kerja Sama
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Hak Jawab
  • Disclaimer
  • Pojok Literasi
  • Liputan Mendalam
2026 © Kanal Perspektif - All rights reserved.