Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

Kanal Perspektif - Media Literasi Publik

  • Rubrik
  • _Lini Masa
  • _Dua Sisi
  • _Dialektika
  • _90s
  • Jurnalisme Bertutur
  • Tajuk Rencana
  • Liputan
  • _Wawancara
  • _Liputan Mendalam
  • _Sosial dan Politik
  • _Isu Kontemporer
  • _Cerita Perjalanan
  • _Dibalik Peristiwa
  • _Jurnalisme Infografik
  • _Audio-visual
  • _Rilis Kegiatan
  • Suara Mahasiswa
  • Majalah Kanal Perspektif
  • Lensa Peristiwa
  • Donasi
  • Beranda
  • Dialektika

Media dan Kembalinya Era 90-an

Oleh Yogie Alwaton
April 25, 2021

Foto: Pexels.com

Tak dapat dipungkiri bahwa setiap tahunnya perkembangan tren tertentu berjalan dinamis, mulai dari fashion, culture, lifestyle hingga otomotif sekalipun. 

Dilihat dari perkembangannya, media tentu berkontribusi besar terhadap setiap perubahan budaya yang ada dalam hal ini tren 90an. Banyak media yang meliput dan menelisik kembali mengenai setiap tren 90an hingga membuat masyarakat pun mau tak mau mengikuti arus perkembangannya.

Tahun 2020 hingga saat ini 2021 memang tahun kejayaannya kembali dari era 90an. Katakanlah dunia otomotif, baik mobil maupun motor yang comeback mulai menggerus mobil-mobil keluaran baru. Harganya pun terkadang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin sebuah mobil bekas, sudah banyak minusnya atau bahkan tidak layak untuk dipakai kembali harganya bisa naik dan meroket tajam? 

Berdasarkan pengalaman saya sendiri yang pernah memiliki motor tua, yaitu Honda C-70 memang ada sensasi tersendiri ketika menungganginya. Betapa tidak, motor keluaran tahun 70an tersebut ternyata memang sedang dicari dipasaran dan harganya pun terbilang terus naik. Disisi yang sama, ada motor 90an, yaitu Honda Astrea yang juga pasarnya stabil dan sedang trendy. Bahkan harga jual bekasnya melebihi harga baru motor ini. 

Disamping itu, era 90an juga saat ini didominisasi oleh industri fashion khususnya thrifting yang kian menjamur. Baju-baju bekas tersebut seolah menjadi tren dikalangan masyarakat umum. Tak perduli sudah seperti apa bentuknya, asalkan baju tersebut tersemat brand ternama, harganya bisa selangit. Selain itu, baju-baju bekas tersebut juga memang memiliki keunikan tersendiri apabila disandingkan dengan baju kekinian saat ini. Terlebih, industri thrifting ini memang mempunyai rentetan sejarah yang panjang. 

Baca juga: Thrifting: Alternatif Fast Fashion atau Aktivitas Konsumtif Semata

Bahkan tren fashion 90an menjadi sentral pada industri fashion dunia. Vogue dalam lamannya mencatat ‘The 1990s’ menjadi key tren pada tahun 2021 ini. Hal yang sama pun ada di Indonesia, CMO USS Networks, Jeffry Jouw mengatakan bahwa tren fashion kedepan ialah vintage dan 90s fashion. Di Indonesia sendiri memang 90s fashion memang sedang menjadi tren. Terlebih, sebagian orang juga menginginkan recycle fashion dengan membeli pakaian bekas yang hanya ada pada 90s fashion culture. 


Lalu, mengapa ini bisa terjadi? 


Pertama, soal perkembangan zaman yang dinamis. Setiap tahun tren pun dapat berubah-ubah yang menandakan tidak selalu dapat terprediksi. Kembalinya era 90an yang saat ini menjadi tren di 2021 merupakan contoh nyata perkembangan yang dinamis. 


Kedua, soal media. Media sangat berperan melalui medium-mediumnya seperti Youtube, Instagram, Televisi, dan lain sebagainya. Selain itu, banyak influencer yang juga memanfaatkan media untuk membuat suatu tren baru. Katakanlah Iqbaal Ramadhan yang dengan kecintaannya terhadap dunia otomotif, khususnya 90s tersebut membuat video-video terkait di kanal youtube pribadinya. Ada pula “100 Juta Challenge” yang merupakan ajang perlombaan mencari mobil bekas khusus tahun 90an yang kemudian dijadikan challenge. 100 Juta Challenge ini menjadi tontonan favorit masyarakat di youtube lantaran ada influencer terkenal seperti Arief Muhammad, Fitra Eri, Om Mobi, dan Ridwan Hanif. 


Peran media


Sebaran dari media-media itu kemudian menjadi konsumsi publik sehingga dapat menciptakan kebudayaan atau tren-tren baru di tengah masyarakat. Peranan dari setiap hal di atas serta begitu masifnya media pun menjadikan setiap perubahan berjalan secara dinamis.


Tahun ini memang sedang kembalinya era 90an. Namun bagaimana tahun-tahun selanjutnya? Menarik pula soal bagaimana media kedepannya membingkai sesuatu hingga menjadi tren bagi publik?

Tags:
  • Dialektika
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Yogie Alwaton
Yogie Alwaton
a full-time learner who loves journalism and media studies.
Tulisan terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tulisan terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan
Posting Komentar
Batal
Banyak Dibaca
  • Di Aceh Tamiang, Tiga Bulan Terasa Baru Seminggu, Sebuah Catatan dari Balik Lumpur

    Maret 16, 2026
    Di Aceh Tamiang, Tiga Bulan Terasa Baru Seminggu, Sebuah Catatan dari Balik Lumpur
  • Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo

    Juni 24, 2023
    Ada Aburizal Bakrie dibalik Kasus Lumpur Lapindo
  • Menjaga Kebersihan Lingkungan Juga Bagian dari Cinta Tanah Air

    Januari 28, 2026
    Menjaga Kebersihan Lingkungan Juga Bagian dari Cinta Tanah Air
  • Ibu Begal Kampung Inggris: Dimusuhi Hingga Pernah Dipukul

    Januari 26, 2023
    Ibu Begal Kampung Inggris: Dimusuhi Hingga Pernah Dipukul
  • Mutualisme Media dan Budaya Pop ditengah Hegemoni Komodifikasi

    November 29, 2021
    Mutualisme Media dan Budaya Pop ditengah Hegemoni Komodifikasi
Gila Temax
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Kerja Sama
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Hak Jawab
  • Disclaimer
  • Pojok Literasi
  • Liputan Mendalam
2026 © Kanal Perspektif - All rights reserved.